Ada nama-nama yang tidak sekadar menjadi sebuah nama. Ada nama yang menyimpan sejarah, perjuangan, dan sebuah panggilan. Bagi umat Paroki Singkawang, nama Santo Fransiskus Assisi adalah salah satunya.
Setiap tanggal 4 Oktober, kita merayakan Santo Fransiskus Assisi, seorang pribadi yang memilih meninggalkan kenyamanan dunia dan mengikuti Kristus dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai seorang yang mencintai orang-orang kecil, dekat dengan mereka yang menderita, membangun persaudaraan, mencintai ciptaan, dan senantiasa berusaha menjadi pembawa damai.
Namun, ketika kita merayakan Santo Fransiskus sebagai pelindung Paroki Singkawang, kita tidak hanya sedang mengenang seorang santo yang hidup berabad-abad lalu. Kita sedang diajak untuk melihat kembali sebuah perjalanan iman yang telah tumbuh begitu panjang di tanah Singkawang.
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1873 telah terdapat umat yang dipermandikan oleh Pater J. de Vries, SJ. Kemudian pada tahun 1885, Stasi Singkawang didirikan dengan Pater Staal, SJ sebagai pastor pertama.
Pada masa itu, Gereja masih bertumbuh dalam kesederhanaan. Komunitas umat belum besar. Fasilitas pun terbatas. Namun, benih iman telah ditanam.
Benih kecil itu kemudian terus bertumbuh.
Bahkan ketika pada tahun 1897–1905 misi di Kalimantan berlangsung tanpa kehadiran pastor, kehidupan iman tidak sepenuhnya padam. Ada umat dan para katekis yang tetap menjaga kehidupan Gereja. Sebuah kenyataan sederhana yang mengingatkan kita bahwa Gereja tidak hanya hidup karena bangunan atau karena kehadiran seorang imam, tetapi karena ada manusia yang tetap setia menjaga imannya.
Pada tanggal 11 Februari 1905, Prefektur Apostolik Kalimantan didirikan dengan pusat di Singkawang dan dipercayakan kepada Ordo Kapusin.
Kemudian, pada 30 November 1905, Pater Prefek Pacifikus Bos bersama tiga pastor dan dua bruder tiba di Singkawang.
Mereka datang ke sebuah tempat yang masih asing bagi mereka. Mereka belum mengenal bahasa masyarakat setempat. Mereka belum memahami kebiasaan dan budaya yang ada.
Yang mereka temukan hanyalah sebuah gereja kecil dan rumah pastor yang sederhana.
Tetapi dari tempat yang sederhana itu, sebuah karya besar mulai bertumbuh.
Mereka disambut oleh umat yang saat itu berjumlah sekitar 150 orang Katolik Tionghoa. Seorang katekis menjadi jembatan antara para misionaris dan umat. Perlahan-lahan, mereka belajar mengenal masyarakat, memahami kehidupan setempat, dan berjalan bersama umat.
Mungkin mereka tidak pernah membayangkan sejauh apa perjalanan itu akan berlangsung.
Namun, mereka datang bukan untuk sekadar membangun sebuah gereja.
Mereka datang untuk hadir.
Para suster Fransiskanes yang datang pada akhir 1906 mulai mengasuh anak-anak yatim piatu, mengobati orang sakit, dan mengunjungi tempat pengasingan para penderita kusta di luar kota Singkawang.
Para misionaris mendirikan sekolah. Anak-anak dididik dan diasramakan. Rumah sakit kemudian didirikan. Rumah sakit kusta menyusul. Para pastor juga pergi ke kampung-kampung untuk menemui umat yang tinggal jauh dari pusat kota.
Di sana kita melihat sebuah wajah Gereja yang indah.
Gereja tidak hanya hadir ketika umat berkumpul untuk berdoa.
Gereja hadir ketika seorang anak membutuhkan pendidikan.
Gereja hadir ketika seseorang sedang sakit.
Gereja hadir ketika seorang penderita kusta merasa disingkirkan.
Gereja hadir ketika umat di pelosok menunggu untuk dikunjungi.
Gereja hadir dengan mendekat.
Dan mungkin, di sanalah kita dapat memahami mengapa Santo Fransiskus begitu berarti bagi Paroki Singkawang.
Ia tidak mencari tempat yang tinggi. Ia memilih untuk berjalan bersama mereka yang kecil.
Ia tidak membangun jarak dengan orang-orang yang menderita. Ia justru mendekati mereka.
Ia tidak hanya berbicara tentang kasih. Ia berusaha menjadikan hidupnya sendiri sebagai kesaksian kasih itu.
Semangat seperti inilah yang terasa dalam perjalanan Gereja di Singkawang.
Para misionaris datang dengan segala keterbatasan. Mereka belajar bahasa dan kebiasaan masyarakat. Mereka masuk ke kampung-kampung. Mereka mendirikan sekolah. Mereka merawat orang sakit. Mereka mendampingi anak-anak yatim piatu. Mereka mengunjungi para penderita kusta.
Mereka tidak hanya mewartakan Kristus dengan kata-kata. Mereka menghadirkan Kristus melalui kehadiran dan pelayanan.
Itulah semangat yang diwariskan kepada Gereja di Singkawang.
Gereja telah berkembang. Umat semakin bertambah. Stasi-stasi semakin banyak. Karya pelayanan semakin luas.
Namun, satu hal tetap sama: Gereja dipanggil untuk hadir bagi manusia.
Hari ini, karya tersebut tidak lagi hanya menjadi tugas para imam, biarawan, dan biarawati. Sejarah Paroki Singkawang mencatat semakin besarnya keterlibatan umat awam melalui Dewan Paroki, kring-kring, guru agama, dan para petugas pastoral.
Artinya, tongkat estafet itu telah berpindah ke tangan kita.
Kita adalah bagian dari sejarah yang sama.
Jika dahulu para misionaris berjalan dari kampung ke kampung, hari ini kita dipanggil untuk berjalan bersama mereka yang ada di sekitar kita.
Jika dahulu mereka membuka sekolah dan rumah sakit, hari ini kita dipanggil untuk membuka hati bagi mereka yang membutuhkan.
Jika dahulu mereka mendatangi mereka yang tersisih, hari ini kita dipanggil untuk bertanya: siapa yang mungkin sedang merasa sendirian di sekitar kita?
Dan jika dahulu mereka datang ke Singkawang dengan membawa kabar tentang Kristus, hari ini kita dipanggil untuk membuat orang lain dapat mengenal Kristus melalui kehidupan kita.
Ini adalah sebuah panggilan.
Panggilan untuk hidup lebih sederhana.
Panggilan untuk melihat sesama bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai saudara.
Panggilan untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang menderita.
Panggilan untuk melayani tanpa harus selalu terlihat.
Panggilan untuk menjadi Gereja yang hadir, bukan Gereja yang hanya menunggu didatangi.
Sebab, mungkin inilah cara terbaik untuk menghormati Santo Fransiskus: bukan hanya dengan merayakan pestanya, tetapi dengan meneruskan cara hidupnya.
Dari sebuah gereja kecil dan rumah pastor yang sederhana, Tuhan menumbuhkan perjalanan iman yang panjang di Singkawang.
Para misionaris telah datang dan pergi. Generasi telah berganti. Namun, api iman itu masih menyala.
Kini, api itu ada di tangan kita.
Semoga kita tidak membiarkannya padam.
Semoga Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang terus menjadi rumah bagi siapa saja: tempat orang menemukan Tuhan, menemukan persaudaraan, menemukan pengharapan, dan menemukan kasih.
Karena pada akhirnya, semangat Santo Fransiskus bukanlah tentang seberapa besar sesuatu yang dapat kita lakukan.
Melainkan tentang seberapa tulus kita bersedia hadir bagi sesama.
Selamat Hari Raya Santo Fransiskus Assisi.
Kiranya teladan hidupnya menuntun kita untuk terus berjalan dalam kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan, dan kasih.
Pax et Bonum.
Damai dan Kebaikan.
Setiap tanggal 4 Oktober, kita merayakan Santo Fransiskus Assisi, seorang pribadi yang memilih meninggalkan kenyamanan dunia dan mengikuti Kristus dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai seorang yang mencintai orang-orang kecil, dekat dengan mereka yang menderita, membangun persaudaraan, mencintai ciptaan, dan senantiasa berusaha menjadi pembawa damai.
Namun, ketika kita merayakan Santo Fransiskus sebagai pelindung Paroki Singkawang, kita tidak hanya sedang mengenang seorang santo yang hidup berabad-abad lalu. Kita sedang diajak untuk melihat kembali sebuah perjalanan iman yang telah tumbuh begitu panjang di tanah Singkawang.
Dari Singkawang, sebuah perjalanan iman dimulai
Jauh sebelum nama Santo Fransiskus menjadi identitas paroki, Singkawang telah menjadi bagian penting dalam sejarah Gereja di Kalimantan.Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1873 telah terdapat umat yang dipermandikan oleh Pater J. de Vries, SJ. Kemudian pada tahun 1885, Stasi Singkawang didirikan dengan Pater Staal, SJ sebagai pastor pertama.
Pada masa itu, Gereja masih bertumbuh dalam kesederhanaan. Komunitas umat belum besar. Fasilitas pun terbatas. Namun, benih iman telah ditanam.
Benih kecil itu kemudian terus bertumbuh.
Bahkan ketika pada tahun 1897–1905 misi di Kalimantan berlangsung tanpa kehadiran pastor, kehidupan iman tidak sepenuhnya padam. Ada umat dan para katekis yang tetap menjaga kehidupan Gereja. Sebuah kenyataan sederhana yang mengingatkan kita bahwa Gereja tidak hanya hidup karena bangunan atau karena kehadiran seorang imam, tetapi karena ada manusia yang tetap setia menjaga imannya.
Ketika para Kapusin datang
Tahun 1905 menjadi babak baru dalam perjalanan tersebut.Pada tanggal 11 Februari 1905, Prefektur Apostolik Kalimantan didirikan dengan pusat di Singkawang dan dipercayakan kepada Ordo Kapusin.
Kemudian, pada 30 November 1905, Pater Prefek Pacifikus Bos bersama tiga pastor dan dua bruder tiba di Singkawang.
Mereka datang ke sebuah tempat yang masih asing bagi mereka. Mereka belum mengenal bahasa masyarakat setempat. Mereka belum memahami kebiasaan dan budaya yang ada.
Yang mereka temukan hanyalah sebuah gereja kecil dan rumah pastor yang sederhana.
Tetapi dari tempat yang sederhana itu, sebuah karya besar mulai bertumbuh.
Mereka disambut oleh umat yang saat itu berjumlah sekitar 150 orang Katolik Tionghoa. Seorang katekis menjadi jembatan antara para misionaris dan umat. Perlahan-lahan, mereka belajar mengenal masyarakat, memahami kehidupan setempat, dan berjalan bersama umat.
Mungkin mereka tidak pernah membayangkan sejauh apa perjalanan itu akan berlangsung.
Namun, mereka datang bukan untuk sekadar membangun sebuah gereja.
Mereka datang untuk hadir.
Gereja yang tidak tinggal di dalam tembok
Kehadiran Gereja kemudian semakin nyata.Para suster Fransiskanes yang datang pada akhir 1906 mulai mengasuh anak-anak yatim piatu, mengobati orang sakit, dan mengunjungi tempat pengasingan para penderita kusta di luar kota Singkawang.
Para misionaris mendirikan sekolah. Anak-anak dididik dan diasramakan. Rumah sakit kemudian didirikan. Rumah sakit kusta menyusul. Para pastor juga pergi ke kampung-kampung untuk menemui umat yang tinggal jauh dari pusat kota.
Di sana kita melihat sebuah wajah Gereja yang indah.
Gereja tidak hanya hadir ketika umat berkumpul untuk berdoa.
Gereja hadir ketika seorang anak membutuhkan pendidikan.
Gereja hadir ketika seseorang sedang sakit.
Gereja hadir ketika seorang penderita kusta merasa disingkirkan.
Gereja hadir ketika umat di pelosok menunggu untuk dikunjungi.
Gereja hadir dengan mendekat.
Dan mungkin, di sanalah kita dapat memahami mengapa Santo Fransiskus begitu berarti bagi Paroki Singkawang.
Semangat Fransiskus
Santo Fransiskus Assisi tidak dikenal karena kemegahan hidupnya. Ia justru memilih jalan yang sederhana.Ia tidak mencari tempat yang tinggi. Ia memilih untuk berjalan bersama mereka yang kecil.
Ia tidak membangun jarak dengan orang-orang yang menderita. Ia justru mendekati mereka.
Ia tidak hanya berbicara tentang kasih. Ia berusaha menjadikan hidupnya sendiri sebagai kesaksian kasih itu.
Semangat seperti inilah yang terasa dalam perjalanan Gereja di Singkawang.
Para misionaris datang dengan segala keterbatasan. Mereka belajar bahasa dan kebiasaan masyarakat. Mereka masuk ke kampung-kampung. Mereka mendirikan sekolah. Mereka merawat orang sakit. Mereka mendampingi anak-anak yatim piatu. Mereka mengunjungi para penderita kusta.
Mereka tidak hanya mewartakan Kristus dengan kata-kata. Mereka menghadirkan Kristus melalui kehadiran dan pelayanan.
Itulah semangat yang diwariskan kepada Gereja di Singkawang.
Sebuah warisan untuk kita
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak para Kapusin pertama kali menjejakkan kaki di Singkawang.Gereja telah berkembang. Umat semakin bertambah. Stasi-stasi semakin banyak. Karya pelayanan semakin luas.
Namun, satu hal tetap sama: Gereja dipanggil untuk hadir bagi manusia.
Hari ini, karya tersebut tidak lagi hanya menjadi tugas para imam, biarawan, dan biarawati. Sejarah Paroki Singkawang mencatat semakin besarnya keterlibatan umat awam melalui Dewan Paroki, kring-kring, guru agama, dan para petugas pastoral.
Artinya, tongkat estafet itu telah berpindah ke tangan kita.
Kita adalah bagian dari sejarah yang sama.
Jika dahulu para misionaris berjalan dari kampung ke kampung, hari ini kita dipanggil untuk berjalan bersama mereka yang ada di sekitar kita.
Jika dahulu mereka membuka sekolah dan rumah sakit, hari ini kita dipanggil untuk membuka hati bagi mereka yang membutuhkan.
Jika dahulu mereka mendatangi mereka yang tersisih, hari ini kita dipanggil untuk bertanya: siapa yang mungkin sedang merasa sendirian di sekitar kita?
Dan jika dahulu mereka datang ke Singkawang dengan membawa kabar tentang Kristus, hari ini kita dipanggil untuk membuat orang lain dapat mengenal Kristus melalui kehidupan kita.
Bukan hanya nama, tetapi panggilan
Menjadi umat Paroki Santo Fransiskus Assisi bukan hanya berarti memiliki seorang pelindung.Ini adalah sebuah panggilan.
Panggilan untuk hidup lebih sederhana.
Panggilan untuk melihat sesama bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai saudara.
Panggilan untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang menderita.
Panggilan untuk melayani tanpa harus selalu terlihat.
Panggilan untuk menjadi Gereja yang hadir, bukan Gereja yang hanya menunggu didatangi.
Sebab, mungkin inilah cara terbaik untuk menghormati Santo Fransiskus: bukan hanya dengan merayakan pestanya, tetapi dengan meneruskan cara hidupnya.
Dari sebuah gereja kecil dan rumah pastor yang sederhana, Tuhan menumbuhkan perjalanan iman yang panjang di Singkawang.
Para misionaris telah datang dan pergi. Generasi telah berganti. Namun, api iman itu masih menyala.
Kini, api itu ada di tangan kita.
Semoga kita tidak membiarkannya padam.
Semoga Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang terus menjadi rumah bagi siapa saja: tempat orang menemukan Tuhan, menemukan persaudaraan, menemukan pengharapan, dan menemukan kasih.
Karena pada akhirnya, semangat Santo Fransiskus bukanlah tentang seberapa besar sesuatu yang dapat kita lakukan.
Melainkan tentang seberapa tulus kita bersedia hadir bagi sesama.
Selamat Hari Raya Santo Fransiskus Assisi.
Kiranya teladan hidupnya menuntun kita untuk terus berjalan dalam kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan, dan kasih.
Pax et Bonum.
Damai dan Kebaikan.
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Artikelnya lucu dan menarik , salut untuk paroki singkawang
BalasHapus