✦ Mungkin Kamu Suka

Renungan Minggu Biasa XXVII “Tuhan, Tambahkanlah Iman Kami!”

Renungan Minggu Biasa XXVII


Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: 'Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut,' dan ia akan taat kepadamu.

— Lukas 17:6

Saudara-saudari terkasih,


Pada Minggu Biasa XXVII ini, Injil membawa kita kepada sebuah permohonan yang sangat sederhana, tetapi sekaligus sangat mendalam: “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” Para rasul menyadari bahwa mengikuti Yesus bukanlah perkara mudah. Mereka membutuhkan iman yang semakin kuat agar mampu menjalani panggilan sebagai murid.

Permohonan para rasul tersebut sebenarnya juga merupakan doa kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa bahwa iman kita belum cukup kuat. Ketika menghadapi masalah, kita mudah cemas. Ketika doa belum terjawab, kita mulai bertanya apakah Tuhan sungguh mendengarkan. Ketika mengalami kegagalan atau kehilangan, kita dapat merasa seolah-olah Tuhan jauh dari kehidupan kita.

Menariknya, Yesus tidak menjawab permintaan para rasul dengan mengatakan bahwa mereka membutuhkan iman yang sangat besar. Ia justru menggunakan gambaran biji sesawi, sesuatu yang sangat kecil. Yesus ingin menunjukkan bahwa yang terutama bukanlah seberapa besar iman kita menurut ukuran manusia, melainkan apakah kita sungguh-sungguh menaruh kepercayaan kepada Allah.

Iman yang kecil tetapi sungguh-sungguh dapat menjadi kekuatan yang besar ketika kita membiarkan Allah bekerja melalui kehidupan kita. Iman membuat kita mampu tetap melangkah ketika belum mengetahui seluruh jalan di depan kita. Iman membuat kita tetap berharap ketika keadaan belum berubah. Iman juga membuat kita percaya bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.

Hal ini sejalan dengan bacaan pertama dari Habakuk 1:2-3; 2:2-4. Nabi Habakuk mengungkapkan kegelisahannya kepada Tuhan karena ia melihat kekerasan, kehancuran, dan ketidakadilan. Ia bertanya mengapa Tuhan seolah-olah tidak bertindak. Pertanyaan Habakuk sangat manusiawi. Ada kalanya kita pun mengalami keadaan serupa: kita berdoa, tetapi persoalan belum selesai; kita berharap, tetapi jawaban belum datang.

Namun, Tuhan meminta Habakuk untuk tetap menantikan penggenapan penglihatan yang diberikan-Nya. Dari sinilah muncul pesan penting: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” Iman berarti tetap percaya kepada Tuhan meskipun kita harus menunggu.

Sering kali kita menginginkan jawaban Tuhan secepat mungkin. Kita ingin persoalan selesai sekarang, doa dikabulkan sekarang, dan segala sesuatu berjalan sesuai dengan harapan kita. Namun, Tuhan memiliki waktu dan cara-Nya sendiri. Dalam masa menunggu itulah iman kita diuji dan sekaligus dimurnikan.

Menunggu bukan berarti pasif. Menunggu dalam iman berarti tetap melakukan apa yang baik sambil mempercayakan hasilnya kepada Tuhan. Kita tetap bekerja, berusaha, berdoa, melayani, dan menjalankan tanggung jawab, tetapi kita tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya dasar kebahagiaan kita.

Dalam bacaan kedua, 2 Timotius 1:6-8, 13-14, Rasul Paulus mengingatkan Timotius untuk mengobarkan kembali karunia Allah yang ada dalam dirinya. Ia juga mengajak Timotius untuk tidak malu bersaksi tentang Tuhan dan untuk tetap berpegang pada ajaran yang benar dengan bantuan Roh Kudus.

Sabda ini mengingatkan kita bahwa iman bukan sesuatu yang cukup hanya disimpan di dalam hati. Iman perlu dihidupi, dijaga, dan diwujudkan. Iman yang hidup terlihat dalam keberanian untuk melakukan kebaikan, kesetiaan dalam pelayanan, ketekunan dalam doa, dan keberanian untuk tetap menjadi saksi Kristus meskipun menghadapi kesulitan.

Kemudian, pada bagian kedua Injil, Yesus berbicara tentang seorang hamba yang telah menyelesaikan pekerjaannya. Setelah melakukan apa yang diperintahkan, hamba tersebut tidak menuntut pujian atau penghargaan. Ia menyadari bahwa ia hanya melakukan apa yang menjadi kewajibannya.

Pengajaran ini mengajak kita untuk melihat kembali motivasi kita dalam melayani Tuhan. Apakah kita melayani karena kasih, atau karena ingin dihargai? Apakah kita berbuat baik karena sungguh ingin menjadi berkat, atau karena berharap orang lain mengetahui dan memuji kita?

Iman yang sejati membawa kita kepada kerendahan hati. Ketika menyadari bahwa segala sesuatu adalah rahmat Allah, kita tidak perlu membanggakan diri atas kebaikan yang kita lakukan. Kita hanya menjalankan bagian yang dipercayakan Tuhan kepada kita.

Dalam keluarga, iman dapat diwujudkan melalui kesetiaan dan kasih. Dalam pekerjaan, iman terlihat melalui kejujuran dan tanggung jawab. Dalam pelayanan Gereja, iman terlihat melalui kesediaan melayani tanpa mencari pujian. Dalam masyarakat, iman diwujudkan dengan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan dan keberanian memperjuangkan kebaikan.

Karena itu, pada Minggu ini kita dapat bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana keadaan iman saya saat ini? Apakah saya masih percaya kepada Tuhan ketika doa saya belum terjawab? Apakah saya tetap melakukan kebaikan meskipun tidak dihargai? Dan apakah iman saya sungguh terlihat dalam cara saya memperlakukan orang lain?


Saudara-saudari terkasih,

Kita tidak perlu menunggu memiliki iman yang sempurna untuk mengikuti Tuhan. Mulailah dengan iman yang kita miliki sekarang. Mungkin kecil seperti biji sesawi, tetapi jika kita menyerahkannya kepada Tuhan dan terus memeliharanya melalui doa, Sabda Allah, Ekaristi, serta perbuatan kasih, iman itu dapat bertumbuh.

Marilah kita menjadikan seruan para rasul sebagai doa kita sendiri: “Tuhan, tambahkanlah iman kami!” Tambahkanlah iman ketika kami ragu. Kuatkanlah iman ketika kami menghadapi penderitaan. Teguhkanlah iman ketika kami harus menunggu. Dan tuntunlah kami agar iman yang kami miliki tidak hanya tinggal dalam kata-kata, tetapi sungguh menjadi nyata dalam kehidupan.


Semoga kita menjadi pribadi yang mampu berkata seperti Habakuk: tetap menantikan Tuhan meskipun belum melihat jawaban. Semoga kita seperti Timotius yang terus mengobarkan karunia Allah. Dan semoga kita seperti hamba dalam Injil yang melayani dengan rendah hati tanpa mencari pujian

Doa

Tuhan, tambahkanlah iman kami, agar kami tetap percaya, setia, dan mampu menjadi saksi kasih-Mu dalam setiap keadaan.

 Amin.

✠ Tuhan memberkati.

Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar

Mohon komentar dengan baik dan sopan. Spam dan komentar negatif akan dihapus. Terima kasih.