✦ Mungkin Kamu Suka

Renungan Minggu Biasa XXX “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan Kasihilah Sesamamu”

Renungan Minggu Biasa XXX “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan Kasihilah Sesamamu” ”


Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

- Matius 22:37-39

Saudara-saudari terkasih,

Pada Minggu Biasa XXX, Sabda Tuhan membawa kita kepada inti kehidupan sebagai orang beriman: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Bacaan hari ini adalah Keluaran 22:20-26, Mazmur 18, 1 Tesalonika 1:5c-10, dan Injil Matius 22:34-40.

Dalam Injil, seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dan bertanya, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan tentang hukum mana yang harus ditempatkan pada urutan pertama. Pertanyaan tersebut menyentuh inti kehidupan manusia: Apa yang seharusnya menjadi pusat hidup kita?

Yesus menjawab dengan sangat jelas: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kemudian Yesus langsung menghubungkannya dengan kasih kepada sesama. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Kasih kepada Allah harus menemukan wujudnya dalam kasih kepada manusia.

Dengan demikian, iman kepada Allah tidak berhenti pada doa, ibadah, atau pengetahuan tentang ajaran agama. Iman harus menjadi kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudari terkasih,

Bacaan pertama memperjelas bagaimana kasih kepada sesama harus diwujudkan. Tuhan memberikan perhatian khusus kepada orang asing, janda, yatim piatu, dan orang miskin. Tuhan mengingatkan umat-Nya agar tidak menindas atau mengambil keuntungan dari mereka yang berada dalam keadaan lemah. Bahkan Tuhan berkata bahwa Ia akan mendengar jeritan mereka yang tertindas.

Hal ini menunjukkan bahwa kasih bukan sekadar perasaan. Kasih mempunyai konsekuensi dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Kita dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi bagaimana kita memperlakukan orang yang paling dekat dengan kita? Bagaimana kita berbicara kepada anggota keluarga? Bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda pendapat? Bagaimana kita memperlakukan mereka yang tidak dapat memberikan keuntungan apa pun bagi kita?

Kadang-kadang kita mudah mengasihi orang yang menyenangkan hati kita. Kita mudah berbuat baik kepada orang yang juga berbuat baik kepada kita. Tetapi kasih Kristiani diuji justru ketika kita berhadapan dengan orang yang sulit kita terima.

Apakah kasih kita masih bertahan ketika kita tidak mendapatkan balasan?

Apakah kita mampu mengampuni ketika hati kita terluka?

Apakah kita mampu menolong ketika tidak ada seorang pun yang akan mengetahui kebaikan yang kita lakukan?

Kasih kepada sesama bukan berarti kita selalu menyetujui segala sesuatu yang dilakukan orang lain. Kasih juga tidak berarti membiarkan ketidakadilan. Sebaliknya, kasih mendorong kita untuk menghendaki kebaikan bagi sesama dan memperlakukan setiap manusia dengan martabat yang layak sebagai ciptaan Allah.

Kasih yang menjadi kesaksian

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus memuji jemaat di Tesalonika karena iman mereka telah menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekitarnya. Mereka menerima Sabda Tuhan dalam berbagai penderitaan, tetapi tetap memiliki sukacita yang berasal dari Roh Kudus. Kehidupan mereka kemudian menjadi teladan bagi orang-orang lain.

Di sini kita menemukan sesuatu yang penting: iman yang hidup akan terlihat.

Orang mungkin tidak selalu membaca Kitab Suci. Orang mungkin tidak selalu mendengarkan khotbah. Tetapi mereka dapat melihat bagaimana seorang Kristiani berbicara, bekerja, mengampuni, melayani, dan memperlakukan orang lain.

Karena itu, salah satu bentuk pewartaan Injil yang paling kuat adalah kesaksian hidup.

Ketika kita memilih kejujuran meskipun ada kesempatan untuk berbuat curang, kita sedang bersaksi tentang iman.

Ketika kita mengampuni meskipun hati masih terluka, kita sedang menghadirkan kasih Kristus.

Ketika kita menolong seseorang yang membutuhkan tanpa mencari pujian, kita sedang menunjukkan bahwa kasih Allah sungguh bekerja dalam diri kita.

Mengasihi Allah dengan segenap hidup

Yesus tidak mengatakan bahwa kita cukup mengasihi Allah dengan sebagian hati kita. Ia berkata: “dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Artinya, Allah tidak hanya menjadi bagian kecil dari kehidupan kita. Allah adalah pusat kehidupan kita.

Maka, kita perlu bertanya:

Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup saya, atau hanya saya ingat ketika sedang membutuhkan pertolongan?

Apakah doa dan Ekaristi mengubah cara saya memperlakukan sesama?

Apakah kasih kepada Allah sudah menghasilkan kasih yang nyata dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, sekolah, dan lingkungan sekitar saya?

Sebab kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama berjalan bersama. Tidak mungkin kita sungguh-sungguh mengasihi Allah jika kita dengan sengaja menutup hati terhadap sesama.

Sebaliknya, ketika kita mengasihi sesama dengan tulus, kita sedang memberi ruang bagi kasih Allah untuk hadir di tengah dunia.

Saudara-saudari terkasih,

Minggu ini Tuhan tidak memberikan kepada kita sebuah teori yang rumit. Ia memberikan jalan hidup yang sederhana, tetapi sekaligus sangat menuntut: kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu.

Marilah kita mulai dari hal-hal kecil. Berikan waktu kepada keluarga. Dengarkan seseorang yang sedang membutuhkan teman berbicara. Berani meminta maaf. Belajar mengampuni. Menolong tanpa pamrih. Tidak merendahkan orang lain. Menjaga mereka yang dipercayakan kepada kita. Dan dalam semuanya itu, jangan lupa menghadirkan Tuhan.

Sebab pada akhirnya, ukuran kehidupan Kristiani bukan hanya seberapa banyak kita mengetahui tentang Allah, tetapi seberapa nyata kasih Allah hidup melalui diri kita.

Marilah kita berdoa:

Tuhan, ajarlah kami mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kami. Bukalah hati kami agar mampu melihat kehadiran-Mu dalam diri setiap orang yang kami jumpai. Jauhkanlah kami dari sikap egois, acuh tak acuh, dan mudah menghakimi. Semoga iman kami menjadi nyata dalam kasih, pelayanan, pengampunan, dan kepedulian kepada sesama. Jadikanlah hidup kami kesaksian tentang kasih-Mu di tengah dunia.

Amin.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”

Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Lebih lama Terbaru

Posting Komentar

Mohon komentar dengan baik dan sopan. Spam dan komentar negatif akan dihapus. Terima kasih.