Ia memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.
- Lukas 6:13
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul. Keduanya termasuk dalam kelompok dua belas rasul yang dipilih oleh Yesus. Dalam kalender liturgi 2026, perayaan ini menggunakan bacaan Efesus 2:19-22 dan Lukas 6:12-16.
Injil hari ini dimulai dengan sebuah tindakan yang sangat penting: Yesus pergi ke gunung untuk berdoa dan menghabiskan malam dalam doa kepada Allah. Setelah itu, ketika hari telah tiba, Yesus memanggil para murid-Nya dan memilih dua belas orang untuk menjadi rasul.
Urutan ini menarik untuk kita renungkan. Sebelum memilih dan mengutus para rasul, Yesus terlebih dahulu berdoa. Perutusan tidak lahir semata-mata dari pertimbangan manusia, tetapi dari relasi dengan Bapa.
Dari antara banyak orang yang mengikuti-Nya, Yesus memilih dua belas orang. Mereka bukan orang-orang yang semuanya memiliki latar belakang yang sama. Mereka memiliki karakter, pengalaman, dan masa lalu yang berbeda. Namun, Yesus memanggil mereka untuk berjalan bersama-Nya dan mengambil bagian dalam karya pewartaan Kerajaan Allah.
Di antara mereka terdapat Simon yang disebut Zelot dan Yudas anak Yakobus, yang hari ini kita rayakan.
Menariknya, kita tidak menemukan banyak kisah tentang kedua rasul ini dalam Injil. Nama mereka bahkan sering kali hanya muncul dalam daftar para rasul. Namun, justru di sinilah terdapat sebuah pesan penting: tidak semua pelayanan harus terlihat besar agar menjadi berharga di hadapan Tuhan.
Saudara-saudari terkasih,
Dalam kehidupan, kita sering mengukur keberhasilan berdasarkan seberapa banyak orang mengetahui apa yang kita lakukan. Kita ingin pekerjaan kita dilihat, pelayanan kita dihargai, dan kontribusi kita diakui.
Namun, Santo Simon dan Santo Yudas mengingatkan kita bahwa ada banyak bentuk kesetiaan yang mungkin tidak tercatat dalam sejarah manusia. Mereka tetap menjadi bagian dari dua belas rasul. Mereka dipanggil, hidup bersama Yesus, menerima perutusan, dan memberikan diri mereka untuk pewartaan Injil.
Artinya, nilai sebuah panggilan tidak ditentukan oleh seberapa terkenal seseorang, melainkan oleh seberapa setia ia menjawab panggilan Tuhan.
Bacaan dari Surat Santo Paulus kepada jemaat di Efesus juga memberikan gambaran yang indah. Kita bukan lagi orang asing atau pendatang, melainkan “kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah.” Para rasul dan para nabi menjadi dasar, dengan Kristus sebagai batu penjuru.
Gambaran ini mengingatkan kita bahwa Gereja bukan sekadar sebuah organisasi. Gereja adalah keluarga Allah, sebuah persekutuan yang dibangun di atas Kristus.
Di dalam keluarga itu, setiap orang mempunyai tempat dan panggilan. Ada yang dipanggil untuk menjadi imam, religius, atau misionaris. Ada yang melayani sebagai katekis, lektor, pemazmur, anggota koor, pengurus lingkungan, atau berbagai bentuk pelayanan lainnya. Ada pula yang menjalankan panggilannya terutama melalui kehidupan keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat.
Tidak semua panggilan tampak di depan. Tidak semua pelayanan mendapatkan tepuk tangan. Tetapi semuanya dapat menjadi bagian dari karya Allah ketika dijalankan dengan iman dan kasih.
Dipanggil untuk menjadi saksi
Menjadi rasul berarti bukan hanya dipanggil, tetapi juga diutus.
Simon dan Yudas tidak berhenti pada pengalaman pribadi bersama Yesus. Mereka membawa apa yang telah mereka terima kepada orang lain. Pesan mereka tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi diteruskan kepada Gereja dan dunia.
Demikian pula dengan kita.
Kita mungkin bukan rasul seperti Simon dan Yudas, tetapi melalui Baptis dan kehidupan iman, kita juga dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tempat kita berada.
Di dalam keluarga, apakah kehadiran kita membawa damai?
Di tempat kerja atau sekolah, apakah sikap kita mencerminkan nilai-nilai Injil?
Di tengah masyarakat, apakah orang lain dapat melihat kasih Kristus melalui cara kita memperlakukan mereka?
Pewartaan Injil tidak selalu harus dilakukan dengan kata-kata yang panjang. Kadang-kadang kesabaran kita, kejujuran kita, kepedulian kita kepada orang yang kesulitan, kesediaan kita mengampuni, dan kesetiaan kita dalam menjalankan tanggung jawab sudah menjadi bentuk pewartaan.
Saudara-saudari terkasih,
Pesta Santo Simon dan Santo Yudas juga mengajak kita untuk tidak merasa bahwa diri kita terlalu kecil atau tidak penting bagi Tuhan.
Mungkin ada di antara kita yang merasa bahwa apa yang dilakukan tidak berarti. Mungkin pelayanan kita jarang diperhatikan. Mungkin doa-doa kita terasa sederhana. Mungkin kebaikan yang kita lakukan tidak pernah diketahui orang lain.
Tetapi Tuhan melihat kesetiaan.
Santo Simon dan Santo Yudas mengajarkan bahwa menjadi murid Kristus bukan tentang menjadi terkenal, melainkan tentang menjadi setia.
Maka hari ini kita dapat bertanya kepada diri sendiri:
Apa panggilan yang Tuhan percayakan kepada saya saat ini?
Apakah saya menjalankannya dengan setia atau hanya ketika mendapatkan penghargaan?
Apakah saya bersedia menjadi saksi Kristus melalui hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari?
Marilah kita belajar dari kedua rasul ini. Semoga kita tidak terlalu sibuk mencari pengakuan manusia sehingga lupa mendengarkan panggilan Tuhan. Sebab Tuhan tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Kadang-kadang Ia hanya meminta kita setia melakukan hal kecil dengan kasih yang besar.
Pada akhirnya, seperti para rasul yang dipilih dan diutus Yesus, kita pun dipanggil untuk menjadi bagian dari keluarga Allah dan ikut membangun Gereja, dengan Kristus sebagai batu penjuru.
Tuhan Yesus, Engkau memanggil Santo Simon dan Santo Yudas untuk menjadi rasul dan saksi-Mu. Ajarlah kami untuk mengenali panggilan-Mu dalam kehidupan kami. Berikanlah kami keberanian untuk menjawabnya, kerendahan hati dalam melayani, dan kesetiaan untuk tetap berjalan bersama-Mu meskipun pelayanan kami tidak selalu dilihat dan dihargai manusia. Jadikanlah hidup kami kesaksian sederhana tentang kasih-Mu. Amin.
“Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul Kristus, doakanlah kami.”
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar