Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.
- Matius 22:21
Saudara-saudari terkasih,
Pada Minggu Biasa XXIX, Gereja mengajak kita merenungkan hubungan antara kehidupan kita di tengah dunia dan tanggung jawab kita sebagai orang beriman. Bacaan liturgi hari ini adalah Yesaya 45:1, 4-6; Mazmur 96; 1 Tesalonika 1:1-5b; dan Matius 22:15-21.
Dalam Injil, orang-orang Farisi bersama para Herodian datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya merupakan jebakan: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”
Mereka berharap apa pun jawaban Yesus akan menempatkan-Nya dalam posisi sulit. Jika Yesus mengatakan bahwa pajak harus dibayar, Ia dapat dianggap tidak berpihak kepada bangsa-Nya. Jika Yesus menolaknya, perkataan-Nya dapat digunakan untuk menuduh-Nya melawan kekuasaan yang berlaku.
Namun Yesus tidak terjebak dalam permainan tersebut. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak. Kemudian Ia bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Yesus kemudian memberikan jawaban yang sangat mendalam: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Sabda Yesus ini mengingatkan kita bahwa kehidupan sebagai orang beriman tidak berarti kita menarik diri dari kehidupan dunia. Kita tetap mempunyai tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Kita dipanggil untuk menghormati aturan yang baik, menjalankan kewajiban, bekerja dengan jujur, menjaga ketertiban, serta memberikan kontribusi bagi kehidupan bersama.
Namun, Yesus sekaligus memberikan batas yang sangat penting: ada sesuatu yang menjadi milik Allah dan tidak boleh kita berikan kepada siapa pun selain Allah.
Kalau mata uang memiliki gambar Kaisar, manusia memiliki gambar dan rupa Allah. Karena itu, bukan hanya sebagian kecil dari kehidupan kita yang menjadi milik Tuhan. Seluruh hidup kita adalah milik Allah.
Kita dapat memiliki pekerjaan, jabatan, harta, pendidikan, prestasi, dan berbagai tanggung jawab di dunia. Semua itu penting. Tetapi jangan sampai semuanya mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan.
Saudara-saudari terkasih,
Sering kali kita lebih mudah memenuhi kewajiban kepada manusia daripada kewajiban kepada Allah. Kita takut mengecewakan atasan, tetapi tidak takut mengabaikan Tuhan. Kita berusaha menjaga nama baik di hadapan orang lain, tetapi kurang memperhatikan keadaan hati kita di hadapan Allah.
Kita mungkin sangat disiplin dalam pekerjaan, tetapi tidak disiplin dalam doa. Kita dapat mengingat berbagai janji kepada manusia, tetapi lupa pada janji iman yang kita ucapkan di hadapan Tuhan.
Karena itu, sabda Yesus hari ini mengajak kita untuk menata kembali prioritas hidup.
Apa yang selama ini paling menguasai hati saya?
Apakah pekerjaan, uang, jabatan, prestasi, atau pengakuan manusia telah mengambil tempat Tuhan dalam hidup saya?
Apa yang sungguh-sungguh sudah saya berikan kepada Allah?
Bacaan pertama memperlihatkan bahwa Allah dapat berkarya melalui orang yang bahkan tidak mengenal-Nya secara penuh. Dalam nubuat Yesaya, Tuhan menyebut Koresy sebagai orang yang diurapi-Nya dan menggunakan dirinya untuk melaksanakan rencana Allah. Pada akhirnya Tuhan menegaskan, “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain.”
Pesannya jelas: Allah tetap menjadi Tuhan atas sejarah dan kehidupan manusia. Kekuasaan manusia memiliki batas. Jabatan dapat berakhir. Kekayaan dapat hilang. Kedudukan dapat berubah. Tetapi Tuhan tetap menjadi dasar dan tujuan hidup kita.
Sementara itu, dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Santo Paulus mengingat pekerjaan iman, jerih payah kasih, dan ketekunan pengharapan mereka dalam Tuhan Yesus Kristus. Iman tidak berhenti pada kata-kata. Iman menjadi nyata melalui pekerjaan, kasih, dan ketekunan.
Inilah yang menjadi tantangan bagi kita sebagai umat beriman. Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita percaya kepada Allah. Iman harus terlihat dalam cara kita hidup.
Ketika bekerja, kita dipanggil untuk bekerja dengan jujur. Ketika memiliki tanggung jawab, kita dipanggil untuk menjalankannya dengan adil. Ketika memiliki kekuasaan, kita dipanggil untuk menggunakannya bagi kebaikan, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Ketika berhadapan dengan sesama, kita dipanggil untuk memperlakukan mereka dengan martabat dan kasih.
Dengan demikian, memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah berarti menyerahkan seluruh hidup kepada-Nya: hati, pikiran, kehendak, waktu, kemampuan, dan seluruh tindakan kita.
Saudara-saudari terkasih,
Pada hari ini, Tuhan mengajak kita untuk hidup secara seimbang dan bertanggung jawab. Kita adalah manusia yang hidup di tengah dunia, tetapi sekaligus merupakan umat yang dipanggil untuk mengarahkan hidup kepada Allah.
Marilah kita melaksanakan kewajiban kita sebagai warga masyarakat dengan baik, tetapi jangan pernah melupakan identitas kita sebagai anak-anak Allah.
Berikan kepada dunia apa yang menjadi tanggung jawab kita. Berikan kepada sesama apa yang menjadi hak mereka. Tetapi kepada Allah, berikanlah seluruh hati kita.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa banyak yang kita miliki atau seberapa tinggi kedudukan kita, melainkan:
Apakah hidup yang Tuhan percayakan kepada kita telah kita gunakan untuk memuliakan-Nya dan melayani sesama?
Tuhan, Engkaulah sumber dan tujuan hidup kami. Ajarlah kami untuk menjalankan setiap tanggung jawab kami di tengah dunia dengan jujur dan penuh kasih. Jangan biarkan kesibukan, harta, jabatan, maupun keinginan akan pengakuan manusia mengambil tempat-Mu dalam hati kami. Semoga seluruh hidup kami menjadi persembahan bagi-Mu dan menjadi berkat bagi sesama
Amin.
“Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar