SUARA YANG KUPINJAM

SUARA YANG KUPINJAM


Malam itu, hujan turun perlahan di halaman Gereja Santo Paulus .Air menetes dari ujunggenting, membentuk bunyi kecil yang bersahut-sahutan dengan gema lonceng malam. Clara duduk sendiri di bangku paling belakang sambil memandangi layar telepongenggamnya yang menyala pucat.

Di pangkuannya terbuka buku Pendidikan Agama Katolik yang belumdisentuh samasekali.

“Buatkan doa penutup untuk misa kaum muda tentang rasa syukur.”

Jemarinya bergerak cepat mengetik perintah itu. Tidak sampai lima detik, deretankalimat indah muncul di layar. Kata-katanya rapi, menyentuh, bahkan terdengar lebihdewasa daripada usianya.

Clara tersenyum kecil.

Sudah hampir setahun ia terbiasa menggunakan kecerdasan buatan untuk membantunya. Awalnya hanya untuk mencari ide tugas sekolah. Namun lama-kelamaan, semuanyaterasa lebih mudah jika dibantu AI. Cerpen, puisi, pidato, renungan, bahkan ucapan ulangtahun untuk teman-temannya pun sering dibuat oleh mesin itu.

Dan hasilnya selalu berhasil membuat orang kagum.

“Bahasa kamu bagus sekali, Clara,” puji Bu Rani, guru Bahasa Indonesia, saat mengembalikan tugas cerpen minggu lalu.

Di gereja pun sama. Saat Clara doa umat pada misa kaum muda, beberapa ibu-ibubahkan memujinya setelah misa selesai.membacakan

“Kata-katanya menyentuh hati sekali.”

Clara hanya mengangguk sambil tersenyum sopan.

Namun pujian itu terasa aneh di dalam dadanya, seperti mengenakan pakaian milik oranglain—terlihat bagus, tetapi tidak benar-benar nyaman.

Ia mulai merasa bahwa semua kata-kata itu bukan miliknya.

Di sekolah, Clara dikenal sebagai murid pintar.

Teman-temannya sering meminta bantuan saat ada tugas. Namun diam-diamClaramulai takut pada halaman kosong. Tanpa bantuan layar bercahaya itu, pikirannya terasabuntu.

Ia seperti burung kecil yang terlalu lama tinggal di dalam sangkar. Sangkar itu memangmembuatnya nyaman, tetapi perlahan membuatnya lupa cara terbang. Suatu siang, Suster Maria masuk ke kelas sambil membawa beberapa lembar kertas. “Hari ini kita tidak belajar dari buku,” katanya lembut. “Ibu ingin kalian menulis tentangpengalaman paling dekat kalian dengan Tuhan.”

Beberapa murid langsung mulai menulis. Ada yang tersenyum sendiri, ada pula yangberpikir sambil menggigit ujung pena.

Namun Clara hanya diam.

Tangannya memegang pulpen, tetapi kepalanya kosong.

Biasanya, ia akan segera membuka telepon genggam lalu mencari ide. Namun sekolahsedang menerapkan aturan bebas gawai selama jam pelajaran. Clara menatap lembar kertas putih di depannya cukup lama.

Ia sadar bahwa dirinya mampu membuat banyak kalimat indah, tetapi tidak tahubagaimana menulis isi hatinya sendiri.

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid mulai mengumpulkan tugas mereka. Clara belum menulis satu kalimat pun.

Suster Maria menghampirinya perlahan. “Kamu tidak apa-apa?”

Clara menunduk cepat. “Saya bingung mau mulai dari mana, Suster.” Suster Maria tersenyum kecil. “Kadang-kadang, tulisan yang paling sederhana justru yangpaling jujur.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala Clara sepanjang hari.

Malam Minggu, Clara datang ke gereja untuk latihan misa kaum muda bersama OMK. Gereja tidak terlalu ramai malam itu. Hanya ada suara kipas tua yang berputar pelan danlangkah kaki beberapa anak muda yang sibuk menata buku lagu. Cahaya lilin di dekat altar tampak hangat.

Berbeda dengan cahaya layar telepon genggam Clara yang terasa dingin. Saat teman-temannya bercanda, Clara malah sibuk mengetik renungan singkat untukmedia sosial OMK.

“Kadang aku iri sama kamu,” kata Nino tiba-tiba sambil duduk di sebelahnya. “Kamuselalu tahu kata-kata yang bagus.”

Clara terdiam sesaat.

Kalau saja Nino tahu.

Tiba-tiba pembina OMK masuk dengan wajah cemas.

“Anak-anak, kita doakan Oma Benedikta, ya. Beliau baru masuk rumah sakit sore tadi.” Suasana langsung hening.

“Oke, Clara saja yang pimpin doa,” lanjutnya.

Jantung Clara langsung berdegup cepat.

Biasanya ia memang sering diminta memimpin doa karena kata-katanya dianggap bagus. Refleks Clara meraih telepon genggamnya.

Namun layar itu mati.

Baterainya habis.

Perut Clara terasa mulas. Tangannya dingin. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki kata-kata siap pakai.

Semua mata memandang ke arahnya.

Hening beberapa detik terasa begitu panjang.

Clara menatap altar di depan. Nyala lilin kecil bergetar pelan tertiup angin dari pintusamping gereja. Entah mengapa, lilin itu mengingatkannya pada dirinya sendiri—terlihat tenang dari luar, padahal gemetar menahan takut.

Ia menarik napas panjang.

“Tuhan…” suaranya pelan dan sedikit bergetar. “Kami sayang Oma Benedikta. Tolong jagadia malam ini. Temani dia supaya tidak merasa sendirian.”

Clara berhenti sebentar.

“Aku tidak pandai berkata-kata malam ini, Tuhan. Tapi… aku percaya Engkau tetapmendengar doa yang sederhana.”

Gereja kembali sunyi.

Tidak ada kalimat puitis. Tidak ada kata-kata rumit seperti biasanya.

Namun entah mengapa, Clara merasa dadanya jauh lebih ringan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang meminjam suara siapa pun. Setelah doa selesai, pembina OMK tersenyum hangat kepadanya.

“Itu doa yang indah.”

Clara menunduk pelan. Matanya terasa hangat.

Malam semakin larut ketika teman-temannya mulai pulang. Clara masih duduk sendiri di bangku gereja. Hujan di luar sudah reda, menyisakan aroma tanah basah yang masukbersama udara malam.

Telepon genggamnya akhirnya kembali menyala setelah diisi daya sebentar. Puluhan notifikasi muncul di layar.

Namun kali ini Clara tidak langsung membukanya.

Ia justru memandang nyala lilin kecil di depan altar.

Cahaya itu sederhana. Tidak terang seperti layar telepon genggam. Namun adakehangatan yang tidak bisa diberikan oleh teknologi mana pun. Perlahan, Clara mematikan telepon genggamnya kembali.

Lalu ia menyalakan satu lilin kecil di dekat altar.

Ia tersenyum tipis.

Teknologi memang dapat membantu manusia menemukan kata-kata. Namun hanya hati manusialah yang mampu memberi makna pada setiap suara yang diucapkan.


(AYU JESIKA)

SUARA YANG KUPINJAM SUARA YANG KUPINJAM Reviewed by Paroki Singkawang on Selasa, Juni 09, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.