Pagi di kota selalu dimulai dengan suara kendaraan yang bersahutan bahkan sebelum matahari benar-benar muncul. Orang-orang berjalan cepat menuju tempat kerja, pedagang mulai membuka toko, dan lampu-lampu kafe yang semalam menyala perlahan dipadamkan. Kota itu seolah tidak pernah tidur. Saat langit masih pucat dan udara pagi belum terasa hangat, kehidupan sudah bergerak ke segala arah dengan ritme yang cepat dan melelahkan.
Di tengah kota itu tinggal seorang remaja bernama Jeffvandio. Ia hidup bersama kedua orang tuanya di rumah sederhana di kawasan yang cukup ramai. Rumah itu memang tidak besar, tetapi memiliki satu tempat favorit yang selalu membuatnya nyaman sejak kecil, yaitu ruang baca kecil di dekat jendela belakang rumah. Di ruangan itu terdapat rak-rak kayu tua yang dipenuhi berbagai buku, mulai dari novel klasik, ensiklopedia lama, buku sejarah, kumpulan puisi, hingga buku-buku kuliah milik ayahnya. Bagi Jeffvandio, tempat itu terasa lebih tenang dibandingkan tempat mana pun.
Sejak kecil, Jeffvandio memiliki kebiasaan yang dianggap aneh oleh teman-teman seusianya. Saat banyak remaja lebih senang bermain gim atau media sosial, ia justru betah membaca buku berjam-jam sambil mencatat kalimat menarik di buku kecil miliknya.
Sering kali ibunya menemukan Jeffvandio tertidur di meja belajar dengan buku yang masih terbuka di samping wajahnya.
“Jeff, nanti kamu sakit loh kalau baca terus sampai malam,” ujar ibunya sambil merapikan buku-buku di meja.
Jeffvandio hanya tersenyum kecil. “Aku penasaran sama ending bukunya, Bu. Lagi pula lumayan buat ningkatin literasi.”
Kebiasaan membaca itu membuat Jeffvandio dikenal sebagai murid rajin di sekolah. Nilainya hampir selalu bagus, terutama pada pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah. Namun yang paling dikagumi guru-gurunya bukan hanya hasil belajarnya, melainkan rasa ingin tahunya. Ia tidak suka sekadar menghafal jawaban. Jeffvandio selalu ingin memahami alasan di balik sesuatu.
Jika menemukan materi sulit, ia akan mencari referensi tambahan sampai benar-benar paham. Ia juga memiliki kebiasaan membuat catatan panjang dengan tulisan tangan kursif yang rapi.
Suatu hari, Dimas melihat buku catatan Jeffvandio yang penuh tulisan.
“Jev, lo ngapain sih repot-repot bikin catatan sebanyak ini?” tanyanya.
Jeffvandio tertawa kecil. “Kalau nulis sendiri lebih gampang masuk ke otak.” Dimas hanya menggeleng sambil tertawa. Bagi Jeffvandio, belajar bukan sesuatu yang harus selesai secepat mungkin. Ia menikmati prosesnya, mulai dari rasa penasaran hingga kepuasan ketika berhasil menemukan jawaban sendiri.
Namun semua mulai berubah ketika Artificial Intelligence atau AI berkembang semakin cepat. Awalnya teknologi itu hanya menjadi pembicaraan di internet dan media sosial. Banyak orang menggunakannya untuk membuat gambar, menulis cerita, menyelesaikan soal, hingga membuat presentasi sekolah dalam hitungan detik.
Sekolah Jeffvandio pun mulai memanfaatkan teknologi tersebut. Beberapa guru memperbolehkan siswa menggunakan AI sebagai alat bantu belajar selama digunakan dengan bijak. Awalnya Jeffvandio tidak terlalu tertarik. Ia masih memilih membaca buku dan menulis sendiri dibanding bergantung pada teknologi. Akan tetapi, perlahan suasana di sekitarnya berubah.
Saat ada tugas kelompok, teman-temannya tidak lagi berdiskusi panjang seperti dulu. Mereka hanya mengetik instruksi singkat ke aplikasi AI, lalu jawaban lengkap langsung muncul.
“Sekarang semuanya jadi lebih gampang,” kata Dimas sambil menunjukkan hasil presentasinya. “Tinggal masukin topik, langsung jadi.”
Jeffvandio hanya mengangguk kecil, tetapi diam-diam ia merasa mulai tertinggal. Suatu malam, guru sejarah memberikan tugas membuat esai tentang perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Seperti biasa, Jeffvandio mulai mencari referensi, membuat kerangka tulisan, lalu mencatat poin-poin penting di kertas. Namun ketika membuka grup kelas, ia melihat hampir semua temannya sudah selesai. Beberapa bahkan membagikan hasil tulisan yang tampak sangat rapi dan profesional. “Jeff, lo belum selesai?” tulis Dimas.
“Belum.”
“Pakai AI aja biar cepet.”
Jeffvandio memandangi pesan itu cukup lama. Dalam dirinya muncul rasa ragu. Ia sebenarnya ingin tetap mengerjakan sendiri, tetapi rasa lelah dan tekanan untuk cepat selesai membuatnya akhirnya mencoba AI.
Untuk pertama kalinya, Jeffvandio menggunakan teknologi itu untuk tugas sekolahnya. Ia mengetik beberapa instruksi sederhana, lalu dalam hitungan detik layar laptopnya dipenuhi esai panjang yang tersusun rapi.
Jeffvandio terdiam. Ia kagum sekaligus bingung. Semua yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam kini selesai hanya dalam beberapa menit. Malam itu, ia menyerahkan tugasnya tanpa banyak mengubah isi tulisan tersebut. Tanpa disadari, itulah awal perubahan besar dalam hidupnya.
Hari-hari berikutnya, Jeffvandio semakin sering menggunakan AI, mulai dari mencari ide hingga menyelesaikan hampir semua tugas sekolah. Perlahan kebiasaannya berubah. Rak buku di kamarnya mulai berdebu dan catatan tangannya perlahan menghilang.
Perubahan itu juga terasa di rumah. Saat makan malam, Jeffvandio lebih sering menatap layar ponselnya daripada berbicara dengan keluarganya. Padahal dulu ia sering bercerita panjang tentang buku yang sedang dibaca.
Suatu hari, sekolah mengadakan lomba pidato bertema “Manusia di Tengah Kemajuan Teknologi”. Guru Bahasa Indonesia memilih Jeffvandio sebagai salah satu peserta karena kemampuan menulisnya dianggap baik.
Malam sebelum pengumpulan naskah, hujan deras turun sejak sore. Jeffvandio duduk di meja belajar sambil membuka laptop dan mengetik instruksi untuk membuat pidato. Namun tiba-tiba listrik padam dan seluruh rumah menjadi gelap. Ia mencoba menggunakan ponsel, tetapi jaringan internet ikut mati.
Jeffvandio mulai panik karena naskah pidatonya belum selesai. Dengan kesal, ia bersandar di kursi sambil memandangi kamar yang hanya diterangi cahaya lilin dari ruang tamu. Pandangannya berhenti pada rak buku di sudut kamar.
Rak itu membuatnya teringat masa-masa ketika membaca buku adalah hal paling menyenangkan baginya.
Karena bosan menunggu listrik menyala, ia mengambil salah satu buku lama yang dulu sangat disukainya. Saat membuka halaman pertama, selembar kertas kecil jatuh dari sela buku. Kertas itu berisi tulisan tangannya sendiri ketika masih SMP.
‘Aku ingin menjadi seseorang yang tetap berpikir dengan usaha sendiri.’ Jeffvandio membaca kalimat itu berulang kali. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Tiba-tiba ia sadar bahwa selama ini ia terlalu bergantung pada teknologi hingga melupakan kebiasaan yang dulu paling ia sukai.
Ia memang masih mendapat nilai bagus, tetapi ia tidak lagi benar-benar belajar. Malam itu, di tengah suara hujan dan rumah yang gelap, Jeffvandio mulai membaca kembali. Ia membuka halaman demi halaman perlahan dan merasakan ketenangan yang sudah lama hilang.
Setelah beberapa saat, ia mengambil buku tulis lalu mulai menulis pidatonya sendiri tanpa bantuan AI. Kalimat-kalimatnya memang tidak sempurna, tetapi setiap kata berasal dari pikirannya sendiri.
Keesokan harinya, Jeffvandio berdiri di depan aula sekolah sambil membawa naskah sederhana yang ditulis dengan tangannya sendiri.
“Artificial Intelligence memang membantu manusia,” ucapnya di depan para siswa dan guru. “Tetapi manusia tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berpikir hanya karena semuanya menjadi lebih mudah.”
Aula mendadak hening.
“Kita mulai terbiasa mendapatkan jawaban instan sampai lupa bagaimana rasanya belajar dengan sungguh-sungguh. Padahal ada hal-hal yang tidak bisa digantikan mesin, seperti rasa ingin tahu, empati, dan proses memahami sesuatu dengan hati.”
Setelah pidato itu selesai, tepuk tangan memenuhi aula. Jeffvandio tersenyum kecil sambil menatap naskah di tangannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali merasa bangga terhadap sesuatu yang benar-benar dibuat oleh dirinya sendiri.
(Alfado Frensisboy)
Sebelum Manusia Lupa Cara Berpikir
Reviewed by Paroki Singkawang
on
Selasa, Juni 09, 2026
Rating:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar