Suatu malam, hujan turun pelan di Kota Singkawang. Jalan Diponegoro masih ramai oleh kendaraan yang melintas tanpa henti. Cahaya lampu toko memantul di aspal basah, sementara orang-orang berjalan cepat dengan urusan mereka masing-masing. Kota tetap hidup seperti biasa, seolah tidak pernah peduli pada siapa pun yang diam-diam sedang kehilangan sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Di lantai dua sebuah rumah toko tua, seorang anak bernama Renata duduk sendirian di depan laptopnya. Cahaya layar menerangi wajahnya yang pucat karena kurang tidur. Buku pelajaran berserakan di meja, tetapi matanya justru terpaku pada satu aplikasi AI yang sudah terlalu sering ia buka belakangan ini.
Perlahan ia mengetik,
“Buatkan pendapat tentang dampak teknologi bagi remaja.”
Beberapa detik kemudian, jawaban panjang muncul di layar. Kalimat-kalimatnya rapi, terdengar pintar, dan jauh lebih baik dibanding apa pun yang sempat ia pikirkan. Renata tersenyum kecil lalu langsung menyalinnya ke tugas sekolah.
Awalnya semua terasa biasa saja. Teknologi memang diciptakan untuk membantu manusia, dan hidup Renata terasa jauh lebih mudah sejak mengenal AI. Tugas selesai lebih cepat, presentasinya selalu dipuji, dan jawaban-jawabannya terdengar lebih cerdas. Ketika bingung, ia hanya perlu mengetik pertanyaan lalu semua jawaban datang begitu saja.
Lama-kelamaan, Renata mulai menggunakan AI bukan hanya untuk tugas sekolah. Ia memakainya untuk membuat caption media sosial, membalas pesan, bahkan memilih kata-kata untuk meminta maaf kepada teman.
Hal-hal kecil yang dulu terasa sederhana kini mendadak sulit dilakukan tanpa bantuan mesin. Di sekolah, Renata dikenal sebagai murid pintar. Guru-guru sering memujinya di depan kelas, sementara teman-temannya beberapa kali meminta bantuan ketika ada tugas sulit.
“Cara ngomongmu sekarang beda banget, Re. Kayak lebih dewasa.”
“Presentasimu selalu bagus.”
Renata hanya tersenyum kecil setiap mendengar itu. Namun setiap kali menerima pujian, dadanya justru terasa semakin kosong.
Belakangan ini ia mulai sulit berbicara spontan. Saat seseorang bertanya tiba-tiba, pikirannya mendadak kosong beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bahkan untuk membalas pesan teman, ia sering membuka AI terlebih dahulu hanya untuk memastikan jawabannya terdengar cukup baik.
Kadang ia mengetik,
“Bagaimana cara terdengar pintar saat berbicara?”
Semakin hari, Renata semakin takut salah memilih kata. Ia takut terdengar bodoh, takut dianggap aneh, dan takut jika pikirannya sendiri ternyata tidak cukup menarik untuk didengar orang lain.
Tanpa sadar, ia mulai lebih mempercayai mesin daripada dirinya sendiri.
***
Suatu malam, sahabatnya bernama Joyce, mengirim pesan panjang.
“Re… aku capek banget akhir-akhir ini. Rasanya semuanya berantakan.”
Renata membaca pesan itu berkali-kali sambil memandangi layar ponselnya dalam diam. Dulu ia selalu tahu harus berkata apa ketika Joyce sedang sedih. Namun malam itu, tangannya justru menggantung lama di atas keyboard tanpa mengetik satu kata pun. Dadanya mulai terasa gelisah. Akhirnya, seperti biasa, Renata membuka AI. Ia membuka aplikasi ChatGPT, lalu mulai mengetik.
“Buat balasan yang hangat untuk teman yang sedang sedih.”
Jawaban muncul beberapa detik kemudian. Kalimatnya lembut dan terdengar sempurna. Renata langsung menyalinnya lalu menekan tombol kirim.
Namun beberapa saat kemudian, ponselnya kembali bergetar.
“Ini beneran kamu?”
Sebuah pesan dari temannya yang terpampang jelas di layar ponselnya. Semakin lama Renata membacanya, semakin terasa bahwa kalimat-kalimat itu sedang menelanjangi sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan dari dirinya sendiri. Renata terdiam untuk beberapa saat. Belum sempat ia membalas, satu pesan lagi muncul.
“Aku kangen Renata yang dulu.”
Jantungnya terasa seperti berhenti sesaat.
“Sekarang tiap ngobrol sama kamu rasanya kayak ngobrol sama mesin.” Ucap temannya lagi.
Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa jauh lebih menyakitkan daripada bentakan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Renata benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena diam-diam, ia sadar bahwa Joyce benar.
Hari-hari setelah itu terasa berbeda. Renata mulai menyadari bahwa tangannya bergerak otomatis membuka AI bahkan sebelum mencoba memahami pelajaran. Ia lebih percaya pada susunan kata buatan mesin dibanding isi pikirannya sendiri. Bahkan saat ingin menulis pendapat pribadi, ia selalu takut kalau kalimatnya terdengar bodoh.
Ia bahkan mulai bertanya-tanya kapan terakhir kali dirinya benar-benar berpikir sampai larut malam hanya karena penasaran pada sesuatu, tetapi dalam benak pikirannya, ia tidak ingat sama sekali.
***
Beberapa hari kemudian, guru bahasa Indonesia meminta seluruh murid mempresentasikan hasil esai mereka di depan kelas. Renata maju seperti biasa dengan lembar presentasi penuh tulisan rapi di tangannya. Awalnya semua berjalan lancar hingga gurunya tiba tiba bertanya pelan,
“Renata, kalau semua tulisan itu hilang sekarang… menurutmu sendiri bagaimana?”
Kelas langsung sunyi, Renata membeku. Ia sendiri bahkan tidak mengerti apa maksud dari gurunya. Matanya perlahan turun melihat tulisan di tangannya sendiri. Kalimat-kalimat itu terlihat begitu bagus, tetapi mendadak terasa asing. Seolah semuanya ditulis oleh seseorang
yang bahkan tidak benar-benar ia kenal. Ia mencoba menjawab, tetapi kepalanya kosong. Benar-benar kosong.
Guru itu kembali berbicara dengan nada lembut.
“Kamu boleh salah, namun tidak semua hal harus terdengar sempurna.” Ucap gurunya.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat sesuatu di dalam diri Renata runtuh perlahan. Selama ini ia memang tidak takut mendapatkan nilai jelek. Ia hanya takut dianggap tidak cukup pintar.
Malam harinya, Renata duduk sendirian di depan laptop yang menyala redup. Perlahan ia membuka riwayat percakapannya dengan AI. Ratusan pertanyaan memenuhi layar. Tentang tugas, jawaban, hingga bagaimana terdengar pintar.
Renata membaca semuanya dalam diam sampai ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa runtuh perlahan. Tulisan-tulisan itu memang sempurna. Namun tidak ada dirinya di sana. Perlahan ia menutup laptopnya lalu mengambil sebuah buku tulis lama dari laci meja. Tangannya sedikit gemetar saat mulai menulis. Kalimat pertamanya berantakan. Ada beberapa kata yang salah dan banyak coretan di sana-sini. Namun anehnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Renata merasa lega. Lega karena akhirnya ia tidak sedang mencoba menjadi sempurna. Ia hanya sedang mencoba menjadi dirinya sendiri lagi. Renata menatap tulisan itu cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil dengan mata yang masih basah.
Lalu perlahan ia menulis satu kalimat terakhir.
“Maaf… aku bahkan sempat lupa bagaimana caranya menjadi diriku sendiri.” Pada akhirnya, Renata akhirnya mengerti satu hal yang selama ini hilang darinya.
“Teknologi bisa membantu manusia menemukan jawaban. Tetapi teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan proses manusia untuk berpikir, memahami, merasakan, dan bertumbuh dengan hatinya sendiri, karena hal paling menyedihkan bukan ketika manusia kalah oleh teknologi, melainkan ketika manusia perlahan berhenti menjadi manusia.”
Di luar jendela, kota masih ramai seperti biasa. Lampu toko tetap menyala, kendaraan terus melaju, dan layar-layar di tangan manusia masih bercahaya di tengah malam.
Namun di dalam kamar kecil itu, seorang anak akhirnya kembali mendengar suara pikirannya sendiri.
-Tamat-
(Bryant Nichaelsen)
Aku Tidak Benar-Benar Mengerti
Reviewed by Paroki Singkawang
on
Selasa, Juni 09, 2026
Rating:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar