Drama Dibalik Postingan Mama Veronika

Perwakilan KOMSOS Paroki Singkawang Raih Prestasi di PKSN KOMSOS KWI

Saat subuh menjelang dan langit masi gelap kebiruan, bunyi rintikan hujan turun perlahan membasahi rumput di halaman rumah Mama Veronika(33 Tahun). Angin semilir bertiup menghembuskan udara sejuk masuk melalui ventilasi rumah BTN minimalis miliknya.

Mama Veronika pun tersadar mendengar suara nyamuk yang mendenging keras di kelambu kamarnya.

“Ngiinggg... ngiinggg...”

Perlahan bunyi itu terdengar makin jelas di telinga.

“Ngiing... ngiinggg...”.

Mengusik ketenangan tidur, Mama Veronika sekeluarga. Dengan mata yang masi kantuk, Ia menjulurkan tangan mengambil ponsel yang, Ia simpan di samping bantal kepalanya.

Dengan perlahan, Ia menekan layar ponsel miliknya dan jam menunjukan pukul 04,30 pagi. Ia, lalu menyalakan fitur senter dan cahaya putih menyinari seisi kamarnya.

Mama Veronika berusaha menyesuaikan posisi duduk yang nyaman sambil menyibakkan rambutnya yang masi berantakan. Ia sesekali melihat suami dan anaknya yang masi tertidur pulas tanpa terusik dengan dengingan nyamuk.

Dengan satu tangan memegang ponsel, Ia mengarahkan cahaya senter kesana kemari mencari keberadaan nyamuk yang sejak tadi terus berdenging.

Setelah menemukan bayangan hitam kecil disisi kanan kelambu dan akhirnya,

“Plak!”

Darah segar menempel di telapak tanganya.

Ia pun membersihkan tanganya dengan tisu sambil mematikan fitur senter di ponselnya.

Mama Veronika kemudian membuka resleting kelambu dan duduk di pinggiran tempat tidur, sambil sesekali melihat ke arah suami dan anaknya yang masih tertidur.

Setelah memastikan aman, Ia menyalakan kembali layar ponselnya. Dengan lincah jemarinya menari di atas layar ponsel yang saat itu bejibun notifikasi.

Mulai dari:
pesan di WhatsApp grup keluarga,
grup orang tua murid,
notifikasi tagihan IndiHome,
hingga komentar netizen di akun pribadinya.

Ia mengabaikan pesan yang banyak di WhatsApp, karena penasaran dengan komentar orang di akunya.

Sesekali, Ia menghela napas panjang, membaca komentar nyinyir netizen atas postingan yang diunggahnya kemarin sore.

Ia sedikit kaget ketika membaca komentar dari akun @annatomi yang mana pemiliknya sangat, Ia kenal.

Dalam akun tersebut terlihat komentar yang sedikit mengejek kebiasaanya memposting sesuatu di media sosial.

@annatomi

“Kaya di dunia maya, melarat di dunia nyata. Suka posting tetapi tidak sesuai kenyataan”.

Membaca komentar tersebut, hati Mama Veronka menjadi panas.

Dengan nada marah dari mulutnya keluar gerutuan kecil,


”Hanya memposting anting baru saja ko, kenapa dia yang reseh ya?,”.

Sambil mendongakkan wajahnya ke langit-langit kamar, Ia membayangkan kejadian kemarin sore, Bu Anna tetangga rumahnya menatap sinis ke arahnya saat bertemu di pasar kompleks.


“Ah... bodo amat!,”

sambil sedikit menghibur diri.

Ia pun berusaha mengabaikan komentar tersebut sambil terus membaca semua postingan yang masuk. Namun usaha tersebut tetap tidak mampu menepis bayangan komentar dari akun @annatomi yang menurutnya sangat menyinggung dirinya.

Di dunia nyata, hubungan tetangga antara Mama Veronika dan Bu Anna sedang tidak baik-baik saja.

Hal ini bermula dari perubahan sikap Mama Veronika yang sudah tidak hadir di tongkrongan ibu-ibu kompleks dan malah aktif di media sosial.

Sikap saling sindir di status WhatsApp kerap mewarnai media sosial keduanya.

Suasana hati, Mama Veronika pagi itu pun menjadi tidak menentu. Ratusan komentar positif diakunya kini runtuh karena satu komentar negatif dari akun tetangganya.

Suasana pagi yang sejuk, bagi Mama Veronika berubah menjadi panas bedengkang.

Dalam hatinya hanya memikirkan balas dendam, dengan membuat postingan baru untuk memancing respon tetangga.

Seakan tidak ingin memendam rasa marah sendirian, Mama Veronika dengan nada pelan membangunkan suaminya, Om Strom(42 Tahun) yang masih tertidur pulas.


“Pak bangun sudah siang!,”

panggilnya, sambil sesekali menggoyangkan kaki suaminya.

Dengan muka yang masing ngantuk, suaminya pun perlahan bangun dan duduk di sisi, Mama Veronika.


“Pagi ma!,”

sapa Om Strom.

Tanpa mempedulikan sapaan suaminya, Mama Veronika mulai mengungkapkan kekesalannya,


”Papa coba lihat komentar ini! Dasar tetangga tidak tau diri,”

sambil menyodorkan HP ke muka suaminya.


“Kenapa sih, Ma?,”

tanya Om Stom dengan rasa penasaran.


“Baca komentar ini, Pak. Tega-teganya dia komentar begitu!,”

ungkapnya dengan nada kesal.

Setelah membaca komentar tersebut, Om Stom menguatkan hati istrinya,


”Sabar ya, Ma,”.


“Tidak Pa, saya tidak terima, saya harus balas dendam dengan postingan baru”

tegasnya.

Mama Veronika kemudian bertanya kembali ke suaminya.


”Pak uang simpanan kita masi ada kan?, Mama mau beli kalung baru!,”

Dengan banyak alasan Mama Veronika terus meyakinkan Om Strom untuk mengikuti keinginannya.


“Rencana mau beli yang berapa karat, Ma,”

tanya Om Stom.


“20 karat, Pa,”

jawabnya spontan.


“Itu mahal sekali, Ma!. Uang kita tidak cukup,”

ungkap Om Strom.

Lebih lanjut, Om Strom menjelaskan,


”Ma, uang yang kita sisihkan kemarin, untuk membayar SPP sekolah, Kaka(panggilan untuk anaknya). Mamakan tau SPP Kaka, sudah menunggak 3 bulan”.


“Nanti saya ganti Pa!. Saya lagi cari duit, kalung itu nanti akan saya kontenkan,”

jawab Mama Veronika dengan nada tinggi.

Dengan mata berkaca-kaca, Mama Veronika terus memandang suaminya sembari berharap akan ada jawaban, ya dari suaminya.

Keuangan keluarga, Mama Veronika belakangan ini sedang tidak baik-baik saja.

Sejak suaminya di PHK dari salah satu perusahan swasta, keadaan keuangan keluarga menjadi tidak menentu.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terpaksa mereka mengambil uang simpanan keluarga dan bahkan SPP sekolah anaknya pun sudah menunggak 3 bulan.

Melihat Mama Veronika yang semakin keras meminta, Om Strom hanya diam seribu bahasa.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pelan dari belakang mereka, anaknya ikut terbangun.

Keduanya, menoleh kebelakang.


“Kenapa bangun, Nak?”

tanya Mama Veronika.


“Aku mau pipis, Ma,”

jawabnya.

Dengan cepat, Om Strom membuka resleting kelambu dan mengantar anaknya ke toilet yang terletak di belakang rumah.

Dalam keheningan, sembari melihat suami dan anaknya lewat di depannya, Mama Veronika mulai tersadar akan satu hal, yakni skala prioritasnya.

Ia, tersadar dari lamunan bahwa membayar SPP sekolah anak, jauh lebih penting daripada hanya memenuhi selera semata.

Sesaat setelah suami dan anaknya kembali. Mama Veronika dengan nada pelan berbisik ke suaminya,


”Maaf kan saya, ya Pak!, tadi terlalu memaksa. Tidak apa uang itu tetap kita sisihkan untuk membayar SPP, Kaka(panggilan untuk anakknya),”

sambil melihat anaknya yang sudah kembali tertidur.

Suaminya memeluk hangat Mama Veronika, sambil sesekali menepuk pundaknya.


”Sabar ya, Ma. Tuhan tidak menutup mata dengan kesulitan kita, pasti selalu ada jalan keluar,”.

Air mata Mama Veronika pun kembali menetes.

Sambil melepaskan pelukan suaminya, Ia sesekali menyeka air mata dengan jarinya.

Beberapa saat kemudian dengan suara pelan, Ia mengajak suaminya,

”Ayo, Pa hari sudah siang,”

sambil berdiri dan melangkah pelan menuju dapur menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan anaknya.

( Adriana Helena,S.Ag )

Drama Dibalik Postingan Mama Veronika Drama Dibalik Postingan Mama Veronika Reviewed by Paroki Singkawang on Selasa, Juni 09, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.