Hari ini kita berada dalam Sabtu Suci, hari yang sunyi dan penuh penantian. Setelah sengsara dan wafat Tuhan, suasana seakan hening, tidak ada peristiwa besar, tidak ada mukjizat yang tampak. Kita diajak masuk dalam keheningan ini, sebuah ruang untuk merenung, berharap, dan percaya.
Dalam keheningan Sabtu Suci, kita seperti para murid yang diliputi kebingungan dan duka. Harapan seolah memudar, dan masa depan terasa tidak pasti. Namun, justru di saat seperti inilah, kita belajar bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat-Nya.
Kita pun sering mengalami “Sabtu Suci” dalam hidup, masa di mana doa terasa hampa, usaha terasa sia-sia, dan jawaban Tuhan seakan tertunda. Kita menunggu, kita bertanya, bahkan mungkin kita meragukan. Tetapi Sabtu Suci mengajarkan kita untuk tetap bertahan dalam iman, karena keheningan bukanlah akhir dari segalanya.
Hari ini juga mengingatkan kita akan iman Bunda Maria, yang tetap percaya meskipun Putra-Nya telah wafat. Kita diajak untuk memiliki iman yang sama: iman yang setia dalam kegelapan, iman yang tetap berharap tanpa melihat.
Sebagai umat Paroki Singkawang, kita dipanggil untuk saling menguatkan dalam masa penantian ini. Kita tidak berjalan sendiri, kita adalah satu komunitas yang bersama-sama menantikan terang kebangkitan. Dalam kebersamaan, kita menemukan kekuatan untuk tetap berharap.
Doa singkat:
Tuhan, di tengah keheningan dan penantian ini, ajarlah kami untuk tetap percaya. Kuatkan iman kami agar kami tidak menyerah dalam kegelapan, tetapi tetap berharap akan terang kebangkitan-Mu. Amin.
Mari kita jalani Sabtu Suci ini dengan hati yang tenang dan penuh harap. Sebab kita percaya, di balik keheningan ini, Tuhan sedang menyiapkan kebangkitan yang mulia.
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar