Hari ini adalah Jumat Agung, hari yang sunyi, hening, dan penuh makna. Kita merenungkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus di kayu salib. Dalam Injil hari ini, kita melihat perjalanan kasih yang luar biasa, mulai dari penangkapan, pengadilan, penderitaan, hingga wafat-Nya. Semua itu bukan karena kelemahan, tetapi karena kasih yang memilih untuk berkorban.
Yesus yang tidak bersalah rela dihina, disiksa, dan disalibkan. Ia memikul salib yang seharusnya menjadi bagian kita. Bahkan di atas salib, Ia masih berkata, “Sudah selesai.” (Yoh 19:30). Kata-kata ini bukan tanda kekalahan, melainkan tanda bahwa karya keselamatan telah genap, kasih Allah dinyatakan secara sempurna.
Di bawah salib, kita diajak untuk diam dan merenung. Salib bukan hanya simbol penderitaan, tetapi juga simbol cinta yang paling murni. Dari salib, kita belajar bahwa kasih sejati selalu melibatkan pengorbanan, pengampunan, dan kesetiaan, bahkan dalam penderitaan.
Kita mungkin sering memikul “salib” dalam hidup, melalui peristiwa kesulitan, kekecewaan, luka batin. Jumat Agung mengingatkan bahwa Tuhan tidak jauh dari penderitaan kita. Ia pernah mengalaminya, bahkan memeluknya. Karena itu, setiap penderitaan yang kita jalani bersama Kristus memiliki makna dan harapan akan kebangkitan.
Apa salib yang sedang kita pikul saat ini? Sudahkah kita menyerahkannya kepada Tuhan?
Doa singkat:
Tuhan Yesus, Engkau yang wafat di kayu salib demi keselamatan kami, ajarlah kami untuk setia dalam penderitaan dan percaya pada rencana-Mu. Berikan kami kekuatan untuk memikul salib dengan kasih dan pengharapan. Amin.
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar