Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya
— Lukas 11:28
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini, 1 Oktober, kita memasuki Bulan Rosario, sebuah kesempatan istimewa bagi umat Katolik untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario bersama Santa Perawan Maria. Bulan Rosario bukan sekadar kesempatan untuk memperbanyak doa, tetapi juga menjadi waktu bagi kita untuk belajar dari Maria dalam mengikuti dan menghayati kehidupan Yesus Kristus.
Rosario sering kali kita kenal sebagai doa yang sederhana. Kita mengucapkan Salam Maria berulang kali sambil merenungkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus. Namun, di balik kesederhanaannya, Rosario mengajak kita memasuki misteri iman yang begitu dalam. Bersama Maria, kita diajak memandang kembali kehidupan Kristus: kelahiran-Nya, karya-Nya, sengsara dan wafat-Nya, hingga kebangkitan dan kemuliaan-Nya.
Maria memiliki tempat yang istimewa dalam perjalanan keselamatan. Ia adalah seorang ibu yang menyimpan dan merenungkan berbagai peristiwa dalam hatinya. Ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel, Maria tidak mengetahui seluruh perjalanan yang akan dihadapinya. Namun, ia berani menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk. 1:38).
Jawaban Maria tersebut menjadi teladan bagi kita. Beriman bukan berarti kita selalu mengetahui apa yang akan terjadi. Beriman berarti berani mempercayakan kehidupan kepada Tuhan sekalipun kita belum memahami seluruh rencana-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering menghadapi situasi yang tidak mudah dipahami. Ada doa yang belum terjawab, persoalan keluarga, masalah kesehatan, kesulitan ekonomi, kegagalan, kehilangan, maupun berbagai kecemasan tentang masa depan. Dalam keadaan seperti itu, kita dapat belajar dari Maria untuk tetap percaya dan membawa segala sesuatu kepada Tuhan.
Rosario menjadi salah satu jalan untuk melakukannya.
Ketika kita mendaraskan Rosario, kita tidak sedang sekadar mengulang kata-kata doa. Kita sedang menyediakan waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menenangkan hati, dan menghadirkan diri di hadapan Tuhan. Dalam keheningan doa, kita diajak melihat kembali kehidupan kita dalam terang kehidupan Kristus.
Maria juga mengajarkan kepada kita untuk membawa segala sesuatu kepada Yesus. Dalam peristiwa di Kana, ketika tuan rumah kehabisan anggur, Maria menyampaikan keadaan tersebut kepada Yesus. Ia kemudian berkata kepada para pelayan, “Berbuatlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu.”
Perkataan Maria ini dapat menjadi pesan bagi kita sepanjang Bulan Rosario: datanglah kepada Yesus dan lakukanlah apa yang Ia kehendaki.
Kita boleh membawa segala permohonan, kekhawatiran, harapan, dan pergumulan kita melalui doa Rosario. Namun, doa tidak berhenti pada permintaan agar Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Doa juga harus membuka hati kita untuk mendengarkan kehendak Tuhan dan melakukan apa yang Dia ajarkan.
Karena itu, selama Bulan Rosario ini, marilah kita tidak hanya bertanya, “Apa yang ingin saya minta kepada Tuhan?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang Tuhan ingin saya lakukan?”
Mungkin Tuhan mengajak kita untuk mengampuni seseorang. Mungkin Tuhan mengajak kita memperbaiki hubungan dalam keluarga. Mungkin Tuhan mengajak kita lebih peduli kepada orang yang membutuhkan. Mungkin Tuhan meminta kita meninggalkan kebiasaan yang tidak baik. Atau mungkin Tuhan hanya meminta kita untuk kembali percaya setelah sekian lama merasa kecewa.
Rosario juga mengingatkan kita bahwa iman harus dijalani bersama. Doa Rosario dalam keluarga, lingkungan, komunitas, maupun Gereja dapat menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan. Ketika kita berkumpul dan berdoa bersama, kita bukan hanya membawa kebutuhan pribadi, tetapi juga membawa keluarga, Gereja, masyarakat, dan dunia ke dalam doa.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, menyediakan waktu untuk berdoa merupakan sebuah bentuk kesadaran bahwa Tuhan tetap menjadi pusat kehidupan kita. Kita mungkin tidak selalu memiliki banyak waktu, tetapi kita dapat menyediakan hati untuk Tuhan.
Maka, pada pembukaan Bulan Rosario ini, marilah kita memperbarui komitmen untuk menjadikan doa sebagai bagian dari kehidupan. Tidak perlu menunggu menghadapi masalah baru kemudian berdoa. Jangan pula menjadikan Rosario hanya sebagai doa ketika kita membutuhkan pertolongan. Biarlah Rosario menjadi perjalanan iman yang membantu kita semakin mengenal Kristus dan semakin menyerupai-Nya.
Saudara-saudari terkasih,
Bulan Rosario adalah kesempatan untuk berjalan bersama Maria menuju Kristus. Maria tidak menggantikan tempat Kristus. Justru melalui teladannya, Maria selalu mengarahkan kita kepada Putranya. Ketika kita belajar dari Maria untuk mendengarkan Sabda Tuhan, menyimpannya dalam hati, dan melaksanakannya, kita sedang belajar menjadi murid Kristus yang semakin setia.
Karena itu, marilah kita memasuki Bulan Rosario ini dengan hati yang terbuka. Bawalah dalam doa keluarga kita, anak-anak kita, orang tua kita, mereka yang sakit, mereka yang sedang mengalami kesulitan, mereka yang kehilangan harapan, Gereja, bangsa dan negara, serta seluruh dunia.
Semoga setiap butir Rosario yang kita daraskan menjadi ungkapan iman dan kasih kita kepada Tuhan. Semoga melalui doa bersama Maria, hati kita semakin damai, iman kita semakin teguh, dan kehidupan kita semakin diarahkan kepada Kristus.
Pada akhirnya, marilah kita mengingat kembali pesan Maria di Kana:
“Berbuatlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu.”
Semoga sepanjang Bulan Rosario ini kita tidak hanya menjadi orang yang rajin berdoa, tetapi juga menjadi pribadi yang semakin mampu mendengarkan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Doa
Santa Maria, Bunda Rosario, doakanlah kami.
Bunda Maria, tuntunlah kami semakin dekat kepada Kristus.
Amin.
✠ Tuhan memberkati.
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar