Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
— Matius 13:27
Umat beriman yang dikasihi Tuhan,
Suatu ketika kita membawa pulang jambu biji yang sudah berwarna kuning merona dengan harapan jambu tersebut bisa disantap. Rasanya sudah tidak sabar untuk menikmatinya di rumah. Nasib, saat dipotong hingga terbelah, kita lalu mendapati buah itu busuk ataupun berulat. Tentu saja timbul rasa kecewa.
Kurang lebih begitulah kondisi kita di dunia digital masa kini yang hidup di era “etalase”, dimana semua orang terasa berlomba-lomba memamerkan kehidupan yang dimiliki dan menampilkan versi terbaik dari hidup mereka. Semuanya tampak seperti “gandum yang siap dipanen”. Sangat indah dan menjanjikan.
Tetapi, coba kita melihat lebih dekat ke dalam realitas hidup sebenarnya. Dibalik cerita perjalanan karier yang sukses, mungkin kita hanya ingin memperoleh validasi. Di balik status media sosial yang bijak, mungkin ada kepahitan atau dendam yang belum selesai. Kita hidup di tempat di mana ketulusan dan kepalsuan saling bertumpuk, kebaikan dan keburukan bercampur baur. Sulit dipisahkan.
Situasi inilah yang digambarkan oleh Yesus dalam injil hari ini melalui perumpamaan tentang gandum dan lalang.
Yesus mengingatkan bahwa di ladang dunia, benih baik (anak-anak Kerajaan) dan lalang (anak-anak si jahat) tumbuh bersama-sama. Mereka tumbuh di tanah yang sama, menyerap air yang sama, dan terkena sinar matahari yang sama. Perbedaannya baru benar-benar terlihat saat musim menuai tiba, ketika gandum menghasilkan bulir-bulir makanan, sedangkan lalang tidak menghasilkan apa-apa selain racun.
Tuhan menempatkan kita di dunia bukan tanpa alasan. Melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi di perikop yang sama, Yesus mengingatkan bahwa meski kita merasa kecil serta tidak berarti di tengah "ladang" penuh tantangan, kita dipanggil untuk tetap bertumbuh secara perlahan namun pasti dan fokus pada pertumbuhan spiritualitas diri.
Mari memeriksa hati kita masing-masing. Jangan asal memakai topeng agar terlihat sempurna. Pada akhirnya, Sang Pemilik Ladang hanya menilai kesejatian hati kita. Jadilah gandum yang menghasilkan buah kebaikan di mana pun Tuhan menanam kita hari ini.
Suatu ketika kita membawa pulang jambu biji yang sudah berwarna kuning merona dengan harapan jambu tersebut bisa disantap. Rasanya sudah tidak sabar untuk menikmatinya di rumah. Nasib, saat dipotong hingga terbelah, kita lalu mendapati buah itu busuk ataupun berulat. Tentu saja timbul rasa kecewa.
Kurang lebih begitulah kondisi kita di dunia digital masa kini yang hidup di era “etalase”, dimana semua orang terasa berlomba-lomba memamerkan kehidupan yang dimiliki dan menampilkan versi terbaik dari hidup mereka. Semuanya tampak seperti “gandum yang siap dipanen”. Sangat indah dan menjanjikan.
Tetapi, coba kita melihat lebih dekat ke dalam realitas hidup sebenarnya. Dibalik cerita perjalanan karier yang sukses, mungkin kita hanya ingin memperoleh validasi. Di balik status media sosial yang bijak, mungkin ada kepahitan atau dendam yang belum selesai. Kita hidup di tempat di mana ketulusan dan kepalsuan saling bertumpuk, kebaikan dan keburukan bercampur baur. Sulit dipisahkan.
Situasi inilah yang digambarkan oleh Yesus dalam injil hari ini melalui perumpamaan tentang gandum dan lalang.
Yesus mengingatkan bahwa di ladang dunia, benih baik (anak-anak Kerajaan) dan lalang (anak-anak si jahat) tumbuh bersama-sama. Mereka tumbuh di tanah yang sama, menyerap air yang sama, dan terkena sinar matahari yang sama. Perbedaannya baru benar-benar terlihat saat musim menuai tiba, ketika gandum menghasilkan bulir-bulir makanan, sedangkan lalang tidak menghasilkan apa-apa selain racun.
Tuhan menempatkan kita di dunia bukan tanpa alasan. Melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi di perikop yang sama, Yesus mengingatkan bahwa meski kita merasa kecil serta tidak berarti di tengah "ladang" penuh tantangan, kita dipanggil untuk tetap bertumbuh secara perlahan namun pasti dan fokus pada pertumbuhan spiritualitas diri.
Mari memeriksa hati kita masing-masing. Jangan asal memakai topeng agar terlihat sempurna. Pada akhirnya, Sang Pemilik Ladang hanya menilai kesejatian hati kita. Jadilah gandum yang menghasilkan buah kebaikan di mana pun Tuhan menanam kita hari ini.
Doa
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menjadi hakim Yang Maha Adil bagi kami. Bimbinglah kami agar tetap menjadi benih gandum yang baik dan dapat membawa dampak positif untuk lingkungan sekitar kami. Supaya ketika waktu pemisahan itu terjadi, kami (gandum) dikumpulkan ke dalam lumbung kerajaan-Mu untuk diselamatkan.
Amin.
✠ Tuhan memberkati.
Penulis: Gracila Luna Audlen Putri
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar