Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
— 2 Korintus 12:9
Umat beriman yang dikasihi Tuhan,
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menerima begitu banyak hal. Setiap hari kita mendengar berbagai nasihat, membaca beragam informasi, dan menyaksikan berbagai peristiwa yang silih berganti. Namun, di tengah derasnya arus informasi itu, tidak semua yang kita dengar benar-benar kita resapkan. Ada kalanya pesan yang baik hanya lewat di telinga tanpa mengubah hati, lalu hilang begitu saja.
Melalui Injil hari ini, Yesus menyampaikan Perumpamaan tentang Penabur. Seorang penabur menaburkan benih di berbagai jenis tanah. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di semak duri, dan ada pula yang jatuh di tanah yang subur hingga menghasilkan buah berlimpah.
Benih yang ditaburkan melambangkan Sabda Allah, sedangkan tanah menggambarkan hati setiap orang. Yesus tidak mengatakan bahwa benih-Nya berbeda-beda. Benih yang ditaburkan selalu baik. Yang membedakan adalah bagaimana hati kita menerima Sabda tersebut.
Sering kali hati kita menyerupai tanah yang dipenuhi semak duri. Kesibukan, kekhawatiran, ambisi, dan berbagai godaan dunia perlahan membuat kita sulit menyediakan ruang bagi Tuhan. Di sisi lain, ada pula saat-saat ketika iman kita mudah goyah seperti tanah berbatu. Kita menerima Sabda dengan sukacita, tetapi cepat menyerah ketika menghadapi tantangan. Padahal, Tuhan menghendaki agar hati kita menjadi tanah yang subur, tempat Sabda-Nya bertumbuh dan menghasilkan buah dalam kehidupan.
Menjadi tanah yang subur bukan berarti hidup tanpa masalah. Tanah tetap harus diolah, dibersihkan, dan dipelihara agar benih dapat bertumbuh. Demikian pula hati kita. Melalui doa, pembacaan Kitab Suci, penerimaan sakramen, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri, Tuhan membentuk hati kita agar semakin siap menerima Sabda-Nya.
Maka dari itu, marilah kita tidak hanya menjadi pendengar Sabda, tetapi juga pelaku Sabda. Ketika Firman Tuhan berakar dalam hati, kita akan semakin mampu menghadirkan kasih, pengampunan, kesabaran, dan pengharapan di tengah keluarga, lingkungan, maupun pelayanan. Dengan demikian, hidup kita dapat menjadi buah yang memuliakan Tuhan dan membawa berkat bagi sesama.
Doa
Tuhan Yesus, terima kasih atas Sabda yang selalu Engkau taburkan dalam hidup kami. Bentuklah hati kami menjadi tanah yang subur agar Sabda-Mu bertumbuh, berakar kuat, dan menghasilkan buah dalam setiap perkataan serta tindakan kami. Semoga hidup kami senantiasa menjadi kesaksian akan kasih-Mu bagi sesama.
Amin.
✠ Tuhan memberkati.
Penulis: Helena Virginia
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar