Saat Orsola berusia lima tahun, ibunya yang tengah menghadapi ajal menyerahkan anak-anak mereka kepada Lima Luka Suci Yesus. Kakak-kakaknya diserahkan kepada luka di tangan dan kaki, sedangkan Orsola, sebagai anak terakhir, dipersembahkan kepada luka di bawah Hati Yesus. Keintiman spiritual ini akhirnya perlahan mengakar di hati Orsola sejak kecil.
Orsola tumbuh dewasa menjadi seorang biarawati di Città di Castello dengan memakai nama Veronika. Saat perayaan Jumat Agung pada 5 April 1697, dirinya dihujam rasa sakit yang mengerikan. Tombak panas dan paku seakan menembus tangan, kaki, dan lambungnya. Demikian, pada usia tiga puluh tujuh tahun Veronika menerima stigmata, yaitu munculnya luka-luka yang menyerupai luka salib Yesus Kristus.
Selama lebih dari satu dekade, Veronika mengalami tempaan berat di dalam sel isolasi. Jabatannya dicabut, bahkan hak mengikuti Misa ditahan. Luka-lukanya sengaja ditusuk dan ditekan dengan alasan "pemeriksaan medis". Namun, karena ketabahan hatinya—barangkali karena sejak kecil ia telah menyelami lautan kasih Hati Kristus—ia menganggap masa penyiksaan tersebut sebagai cara Tuhan untuk menjamahnya.
Saudara-saudari sekalian, sering kita merasa dekat dengan Kristus saat merasa bersih dan tidak bercacat. Namun, sesuai dengan bunyi ayat di atas, Kristus justru dekat dengan mereka yang lemah dan tersakiti. Kita membutuhkan Juru Selamat karena perlu diselamatkan dari keadaan terpuruk. Hal ini tidak sepatutnya dipandang sebagai suatu kelemahan, melainkan sebagai suatu kebutuhan untuk dicintai. Kebutuhan untuk dicintai bukanlah hal yang memalukan, sebab Kristus adalah Cinta itu sendiri. Kita merasa paling dicintai adalah saat Kristus hadir menemani kita di saat paling menyakitkan dalam hidup, di saat yang sama ketika Veronika merenungi luka-lukanya di bawah atap sel isolasi yang memilukan.
“God is love; love is the pasture of life; love is the life of the soul; [the soul] thinks of nothing else; it doesn’t want anything other than love — not for itself, but to give back to God His own love.”
— The Diary of St. Veronica Giuliani, Vol. V, p. 195.
Ketaatan Santa Veronika Yuliani untuk tidak menulis surat protes ke Roma dan persembahan doa-doanya untuk memohon ampun bagi orang-orang berdosa telah menggerakkan hati Vatikan. Ini membuktikan bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan dari siapa yang berteriak paling keras, namun mereka yang tersenyum dalam diam di balik tembok sel biara justru telah memenangkan pertempuran sejak awal.
Setelah Santa Veronika Yuliani mengembuskan napas terakhirnya, diadakan autopsi formal terhadap jenazahnya. Tim medis seketika terguncang setelah melihat organ jantung fisik Veronika: jaringan ototnya membentuk salib kecil, garis lingkaran daging seolah mahkota duri, dan bentuk jaringan seperti tombak dan tiga paku. Adanya guratan pada jantungnya yang membentuk huruf V (Voluntas/the Will of God), F (Fides/Faith), C (Caritas/Charity), dan O (Oboedientia/Obedience) menunjukkan betapa mendalam cinta Veronika kepada Yesus.
Saudara-saudari terkasih, dengan memperingati hari Santa Veronika Yuliani, hendaknya kita semua mengetahui bahwa cara terbaik untuk menyerupai Yesus bukanlah dengan membuktikan siapa yang paling berada di atas puncak. Namun, siapa yang memilih untuk tetap memercayai Kristus bahkan di saat Ia seolah meninggalkan kita, di situlah kita menunjukkan kesungguhan iman kita.
Posting Komentar