Dalam Gereja Katolik, Sakramen Baptis adalah pintu pertama menuju kehidupan iman. Melalui baptisan, seseorang dilahirkan kembali sebagai anak Allah, dibebaskan dari dosa, dan menjadi anggota Gereja. Tidak hanya untuk orang dewasa, Gereja juga membaptis bayi, sebuah praktik yang memiliki makna iman yang sangat mendalam.
Lalu, mengapa bayi perlu dibaptis?
Pertama, baptisan bukan sekadar tanda keanggotaan, tetapi rahmat Allah yang mendahului usaha manusia. Sejak awal kehidupan, setiap manusia membawa kondisi dosa asal. Melalui baptisan, bayi dibersihkan dari dosa tersebut dan menerima hidup baru dalam Kristus. Inilah anugerah yang tidak perlu ditunda, karena merupakan karya kasih Allah yang ingin menyelamatkan semua orang.
Kedua, baptisan adalah awal perjalanan iman, bukan akhir. Bayi memang belum mampu menyatakan iman secara pribadi, tetapi iman itu diwakili oleh orang tua dan Gereja. Orang tua, wali baptis, dan seluruh komunitas berjanji untuk mendampingi anak tersebut agar kelak bertumbuh dalam iman dan mengenal Tuhan secara pribadi.
Gereja menegaskan hal ini dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1250):
“Anak-anak, yang lahir dengan kodrat manusia yang jatuh dan tercemar oleh dosa asal, juga memerlukan kelahiran baru dalam Baptis.”
Lebih lanjut, dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 867 disebutkan bahwa orang tua berkewajiban membawa anaknya untuk dibaptis dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah kelahiran, sebagai tanda pentingnya rahmat ini dalam kehidupan anak.
Ketiga, baptisan menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga Allah. Ia tidak lagi berjalan sendiri, tetapi menjadi anggota Gereja yang hidup. Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting: rumah tangga dipanggil menjadi tempat pertama di mana iman ditanam, dipelihara, dan dihidupi setiap hari.
Bagi kita umat Paroki Singkawang, baptisan bayi adalah pengingat bahwa iman adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Orang tua tidak hanya membawa anak untuk dibaptis, tetapi juga dipanggil untuk menjadi teladan iman, mengajarkan doa, memperkenalkan kasih Tuhan, dan membimbing anak dalam kehidupan Kristiani.
Pada akhirnya, kita dibaptis karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita. Baptisan adalah tanda bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam kasih, menjadi anak-anak Allah, dan berjalan bersama-Nya sepanjang hidup.
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar