Jika seorang di antara kamu kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah.
— Yakobus 1:5
Saudara-saudari terkasih,
Hari ini Gereja merayakan Hari Minggu Biasa XVIII. Melalui Injil hari ini (Luk. 12:13–21), Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang kaya yang berhasil memperoleh panen berlimpah. Karena hasil panennya tidak lagi cukup disimpan di lumbung yang lama, ia memutuskan untuk membangun lumbung yang lebih besar. Ia merasa hidupnya telah aman dan berkata kepada dirinya sendiri, "Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah."
Namun, Allah berkata kepadanya, "Hai orang bodoh! Pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" Melalui kisah ini, Yesus tidak mengajarkan bahwa memiliki harta adalah sesuatu yang salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang menaruh seluruh rasa aman, harapan, dan tujuan hidupnya pada kekayaan, hingga melupakan Allah dan sesamanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menabung demi masa depan, dan berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik. Semua itu merupakan hal yang baik dan patut dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Namun, Injil mengajak kita untuk bertanya: Apakah harta yang kita miliki semakin mendekatkan kita kepada Tuhan, atau justru membuat kita semakin jauh dari-Nya?
Sering kali tanpa disadari, kita lebih sibuk mengejar keberhasilan, jabatan, popularitas, atau kenyamanan hidup daripada membangun relasi dengan Allah. Kita memiliki waktu untuk bekerja, belajar, dan menikmati hiburan, tetapi lupa menyediakan waktu untuk berdoa, mengikuti Ekaristi, membaca Kitab Suci, atau membantu mereka yang membutuhkan. Ketika hati dipenuhi keinginan untuk memiliki lebih banyak, kita mudah lupa bahwa semua yang kita miliki sesungguhnya adalah anugerah Tuhan.
Bacaan pertama dari Kitab Pengkhotbah mengingatkan, "Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." (Pkh. 1:2). Sabda ini bukan berarti hidup tidak memiliki makna, tetapi mengingatkan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi akan berlalu. Kekayaan, jabatan, dan popularitas tidak dapat kita bawa ketika menghadap Tuhan. Yang akan tetap tinggal adalah kasih yang telah kita berikan, iman yang kita pelihara, dan kebaikan yang kita lakukan selama hidup.
Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengajak kita untuk mengarahkan hati kepada perkara-perkara yang di atas, bukan semata-mata kepada perkara duniawi (Kol. 3:1-5.9-11). Artinya, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Ketika Tuhan menjadi prioritas, kita akan menggunakan harta, kemampuan, dan kesempatan yang kita miliki sebagai sarana untuk melayani, bukan untuk memuaskan diri sendiri.
Menjadi "kaya di hadapan Allah" berarti memiliki hati yang murah hati, rela berbagi, penuh belas kasih, dan senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Kekayaan sejati tidak diukur dari banyaknya harta yang kita kumpulkan, tetapi dari besarnya kasih yang kita bagikan kepada sesama.
Hari Minggu ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi kembali arah hidup kita. Apakah selama ini kita lebih sibuk mengumpulkan harta di dunia daripada mengumpulkan harta di surga? Sudahkah kita menggunakan berkat yang Tuhan percayakan untuk menjadi saluran kasih bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat?
Marilah kita belajar untuk hidup sederhana, bersyukur atas setiap berkat yang kita terima, serta tidak pernah lelah berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian, ketika Tuhan memanggil kita kapan pun waktunya, kita dapat datang kepada-Nya dengan hati yang dipenuhi kasih dan iman. Semoga hidup kita sungguh menjadi hidup yang kaya di hadapan Allah.
Doa
Ya Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur atas segala berkat yang telah Engkau percayakan kepada kami. Ajarlah kami untuk tidak melekat pada harta duniawi, tetapi semakin mencintai-Mu dan mengasihi sesama. Bentuklah hati kami agar mampu menggunakan setiap talenta, waktu, dan rezeki sebagai sarana untuk melayani dan memuliakan nama-Mu. Semoga kami senantiasa hidup sebagai anak-anak-Mu yang kaya dalam iman, pengharapan, dan kasih
Amin.
✠ Tuhan memberkati.
Penulis: Georgia Laura Viwanda
Editor: Tim Redaksi KOMSOS Paroki Singkawang

Posting Komentar