Gua Leang-Leang di Distrik Satu Vietnam


Gua Leang-Leang di Distrik Satu Vietnam

52.000 tahun lalu, jauh di dalam mulut Gua Leang-Leang, seorang anak digendong oleh ibunya untuk menjejakkan tangan kecilnya. Tangan itu menapak di dinding batu yang kasar di antara lima puluh telapak lain. Di saat yang bersamaan, ayah si anak menyemburkan campuran tanah liat merah dari mulutnya. Terbentuk siluet tangan di tengah kepungan warna merah begitu si anak melepaskan telapaknya. Lolongan sorak-sorai seketika bergema dan tangan-tangan mulai bertepuk. Di bawah hunjaman stalaktit dan stalagmit, kehadiran mereka telah dibekukan dalam sejarah peradaban manusia.

***

An-Nhiên sangat menikmati pekerjaannya. Baginya, rutinitas seperti mendengarkan dongeng dari berbagai pelosok negeri serta mengabadikan wajah dan suara tersebut ke lukisan cat air adalah tugas yang menyenangkan. Dongeng itu hidup dalam lukisan yang berwarna warni. Jalanan buku di distrik 1 memang dikenal sebagai rute favorit bagi para turis untuk melarikan diri dari huru-hara kota Ho Chi Minh. Tidak jarang mereka membawa sebakul cerita tentang asal kedatangan mereka, sementara An-Nhiên meramu kisah mereka di atas kanvas putih.

1Thứ Tư, ngày 2 tháng 7

"Kami baru saja menikah minggu lalu! Kemudian, Oliver menyusun perjalanan bulan madu kami ke Vietnam."

Tampak kilauan berlian di jari manis mereka. Camilla, si istri, bercerita bahwa saat ini sedang musim panas di Italia. Sebenarnya, dia berharap untuk berkunjung ke negara belahan selatan. Membuat boneka salju dan bermain ski di Queenstown, bukankah itu romantis? Di sisi lain, Oliver merasa bahwa festival budaya, pertunjukan seni jalanan, dan pasar malam yang meriah adalah hal kesukaan mereka dari dulu. An-Nhiên tersenyum saat mendengarkan perbincangan keduanya. Dia mengoleskan cat cokelat tua untuk menggambar kepangan Camilla dan hijau toska untuk luaran Oliver. Tepat di genggaman tangan yang mengikat roh keduanya, sepasang cincin dilukis dengan sangat menyilaukan.

2Thứ Năm, ngày 3 tháng 7

"Aku ingin menjadi koki!"

Anak itu berceloteh tentang betapa susahnya mendapat buku resep di toko buku sebanyak ini, jarinya yang teriris pisau saat memotong kentang, dan ibunya yang menyuruhnya untuk mengganti cita-cita saja. An-Nhiên berkata bahwa seorang koki yang hebat mampu menghidangkan sajian bukan hanya untuk mengenyangkan perut semata, tapi untuk dikenang hangat oleh memori penyantapnya. Si anak mengangguk setuju dengan mata berbinar. Dia bertekad membuatkan ibunya semur krim miso menggunakan resep otentik dari Jepang. Semur krim yang terlampau enak, sehingga mampu melumpuhkan angan-angan ibunya tentang dunia medis. An-Nhiên mendengarnya sambil terkekeh. Tangannya sibuk melukis tampilan depan buku resep yang didekap erat oleh si anak. Buku itu bukan hanya sebagai petunjuk takaran gram tepung, kelak adalah sebuah tangga melingkar bagi si anak untuk mendaki impiannya.

***
1 Rabu, 2 Juli

2 Kamis, 3 Juli
***

Namun, menjadi pelukis bukanlah hal yang mudah. An-Nhiên menggerutu sambil mengibas halaman demi halaman surat kabar hari ini. Terlihat kepala berita yang mencuri perhatiannya: “Ketika Mesin Menggambar, Seniman Menghilang?”

Dia menelan pelan ludahnya. Telunjuknya membaca kata demi kata isi berita tersebut. An Nhiên teringat dengan seorang pengunjung beberapa hari lalu. Pengunjung itu memamerkan gambar dari layar ponselnya. Garis-garis yang rapi, detail yang berkualitas, dan rupa yang sangat realistis. An-Nhiên terkesima dengan gambar mukanya yang dihasilkan hanya beberapa menit oleh alat kecerdasan buatan. Hasilnya jauh berbeda dengan lukisan An-Nhiên yang penuh arsir dan perihal kanan kiri yang masih tidak simetris.

Saat membacanya, perasaan An-Nhiên seperti benang kusut. Dia mencaci dirinya naif jika hanya menjadi pelukis dengan keinginan untuk menikmati kisah peri saja. Jika tidak ingin digantikan mesin yang usah diupah, maka perlu ada yang diubah dari dirinya. Bagi An-Nhiên, ciri khas lukisnya yang lama tidak dibutuhkan oleh pengunjung. Justru, kesempurnaan yang dituntut.

Mulai dari saat itu, An-Nhiên bersikeras mengubah semua teknik melukisnya. Tekstur kulit dibuat sehalus porselen dan saturasi warna disengaja mencolok. Gambar kecerdasan buatan adalah tolok ukur baru An-Nhiên. Biasanya, matanya bergantian melirik ke sudut senyuman pengunjung sembari tertawa mendengar jenaka. Kali ini, hanya sesaat dilihatnya raut dan pakaian mereka, kemudian dia diam tak berkutik. Suasana menjadi hening seolah tidak ada koneksi di antara dunia pelukis dan subjeknya. Sekiranya para pengunjung takut mengganggu konsentrasi si pelukis, mulut mereka ikut terkunci. Kios lukis yang dulu sehangat semur krim miso menjadi area yang dingin bak kutub selatan.

Suatu senja, seorang nenek datang membawa foto cucunya. Dia ingin menyimpan erat binar-binar di mata bulan sabit milik cucu perempuannya. An-Nhiên, seperti biasa mengerahkan seluruh kemampuannya. Dengan penuh kepercayaan diri, dia pastikan tidak ada setitik kesalahan pun tertuang dalam lukisan tersebut. Saat diberi, si Nenek hanya tersenyum pahit. Matanya tidak menampilkan raut seemosional sebelumnya. An-Nhiên lantas bertanya,

“Mengapa?”

“Wajah cucuku tidak sedingin itu,” lirih si Nenek.

Sang pelukis meratap ke kendaraan yang berlalu cepat. Di sepertiga malam tersebut, dia mengernyit. Ucapan si Nenek terus mendesak isi pikiran dan melukai egonya. Jauh di palung hatinya seperti ada lubang yang melompong. Biasanya, isinya penuh dengan kolase cerita. An Nhiên merasakan kehilangan seperti si Nenek yang mencari-cari bintang di mata cucunya saat ditatapnya hasil lukisan buatannya.

Perempuan itu lagi-lagi menenggelamkan dirinya dengan gambar-gambar di internet. Namun, tangan-tangan itu sering terlihat disfungsional. Jarinya kadang bisa berjumlah enam. Di gambar lain, jempol dan telunjuknya menyatu seperti selaput bebek.

An-Nhiên seketika teringat dengan tangan yang menggenggam. Sama halnya dengan tangan yang mendekap erat buku dan yang memegang foto. Walau mulut yang bersuara, tanganlah yang paling kuat berbicara. Dulu, di lukisan-lukisan An-Nhiên selalu ada wajah yang berseri, suara yang tertawa dari balik layar, dan tangan yang berpose membawa makna. Nyatanya, para pengunjung datang bukan dengan harapan muka mereka dibuat seelok lukisan museum.

Garisnya memang linear, lalu apa? Proporsinya memang ideal, untuk apa? Apakah lukisan tersebut berhasil mengenyangkan hati selain mata? Beribu pertanyaan menghunjam hati An Nhiên dalam satu malam. Di antara tumpukan kanvas dan palet warna yang berantakan, An Nhiên tidak lagi menghapus noda cat yang meluber di luar garis tepi. Dia membiarkannya seperti bayangan tangan yang seolah sedang memeluk wajah.

Demikian, manusia tidak ingin dikalahkan oleh waktu. Sedalam-dalamnya manusia ditelan oleh beribu warsa, mereka memuntahkan dirinya kembali setiap saat jejaknya tersingkap. Begitu banyak cara yang dilakukan manusia demi menandakan bahwasanya nafas mereka pernah sepenggal dua penggal melayang di bumi. Sama halnya dengan An-Nhiên, pelukis yang mengabadikan napas hidup pengunjungnya di jantung kota Ho Chi Minh. Juga dengan kelompok manusia purba, yang menjejakkan tangan mereka di dinding Gua Leang-Leang.

(Audrey Angeline Wongso)
Gua Leang-Leang di Distrik Satu Vietnam Gua Leang-Leang di Distrik Satu Vietnam Reviewed by Paroki Singkawang on Selasa, Juni 09, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.