Singkawang – Prestasi membanggakan kembali lahir dari Program Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK) yang dijalankan oleh PSE Paroki Singkawang melalui Seksi Pendidikan. Salah seorang anak penerima beasiswa ASAK yang menempuh pendidikan di SMP Santo Tarsisius Singkawang berhasil meraih Juara 1 Paralel di sekolahnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dengan kesempatan, pendampingan, dan dukungan yang tepat, anak-anak dari keluarga kurang mampu mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya dan bersaing secara akademis.
Prestasi ini juga menjadi cerminan nyata semangat Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, yang menempatkan kaum miskin dan pendidikan sebagai salah satu pilar utama karya pastoral sosial Gereja. Gereja dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus secara konkret melalui keberpihakan kepada mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir, salah satunya melalui akses pendidikan yang merata dan memberdayakan.
Gereja memandang pendidikan bukan sekadar sarana untuk memperoleh pengetahuan, melainkan sebagai instrumen pembebasan dari kemiskinan struktural. Karena itu, sekolah-sekolah Katolik dan berbagai karya pastoral pendidikan didorong untuk semakin inklusif, membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu agar tetap dapat mengenyam pendidikan yang layak.
Program ASAK yang selama ini dijalankan PSE Paroki Singkawang menjadi wujud nyata keberpihakan tersebut. Bantuan yang diberikan bukan sekadar memenuhi kebutuhan biaya sekolah, tetapi juga menumbuhkan harapan, membangun kepercayaan diri, dan memotivasi anak-anak untuk berani bermimpi serta berjuang meraih masa depan yang lebih baik.
Keberhasilan seorang anak dampingan ASAK meraih Juara 1 Paralel menunjukkan bahwa program ini berjalan tepat sasaran. Dukungan umat yang disalurkan melalui ASAK telah menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan anak-anak yang membutuhkan.
Karena itu, program baik ini patut terus didukung dan dikembangkan. Masih banyak anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, namun terbentur oleh keterbatasan ekonomi keluarga. Kepedulian bersama menjadi jembatan agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk bersekolah dan menggapai cita-citanya.
Prestasi ini bukan hanya milik seorang anak, melainkan menjadi buah dari kasih, solidaritas, dan komitmen Gereja dalam menghadirkan pendidikan yang membebaskan.
Dari keterbatasan lahirlah harapan. Dari kepedulian tumbuh prestasi. Dan melalui pendidikan, Gereja terus menyalakan masa depan bagi anak-anak yang paling membutuhkan.

Posting Komentar