Singkawang, 11 Juni 2026 — Setelah rangkaian kegiatan KOMED Vol. 1 "Echo of Humanity" selesai dilaksanakan, puluhan karya peserta dari berbagai kategori terkumpul dengan rapi. Mulai dari reportase, videografi, desain poster, hingga cerpen. Semua karya tersebut tersimpan dengan aman di penyimpanan digital KOMSOS.
Namun setelah lomba berakhir, muncul sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiran kami: apakah karya-karya ini hanya akan berakhir sebagai file yang tersimpan di dalam folder?
Ketika Lomba Selesai, Karya Mulai Dilupakan
Dalam banyak kompetisi, prosesnya hampir selalu sama. Karya dikumpulkan, dinilai, pemenang diumumkan, hadiah diberikan, lalu perlahan perhatian terhadap karya-karya tersebut menghilang. Yang sering tersisa hanyalah nama para juara dan judul karya mereka. Sementara puluhan karya lain yang juga lahir dari proses belajar, berpikir, dan berkarya perlahan terlupakan.
Padahal, ketika kami terlibat dalam proses penjurian dan pendampingan peserta, kami menemukan banyak hal yang menarik.
Setiap Karya Menyimpan Pelajaran
Sebagai koordinator lomba cerpen, saya membaca berbagai karya yang masuk. Tidak semuanya sempurna. Ada cerita yang eksekusinya masih kurang matang, ada yang tata bahasanya belum rapi, dan ada yang belum berhasil menyampaikan pesannya dengan maksimal. Namun di balik kekurangan tersebut, saya menemukan banyak ide yang luar biasa.
Beberapa cerita memiliki premis yang unik. Ada yang mengangkat sudut pandang yang jarang digunakan. Ada pula yang menawarkan gagasan yang sangat menarik meskipun belum berhasil diwujudkan dengan sempurna dalam bentuk tulisan.
Hal serupa juga dapat ditemukan pada kategori lainnya. Dalam karya desain poster, peserta menghadirkan berbagai pendekatan visual yang berbeda. Dalam videografi, peserta menunjukkan cara bercerita dan teknik pengambilan gambar yang beragam. Sementara dalam reportase, terdapat banyak cara penyampaian informasi yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi peserta berikutnya.
Sayangnya, karya-karya seperti itu sering kali hilang begitu saja setelah lomba selesai.
Dari Kegelisahan Menjadi KOMSPACE
Kegelisahan lain muncul ketika kami mencoba mencari referensi dari kompetisi-kompetisi sebelumnya. Tidak jarang yang ditemukan hanya nama peserta dan judul karya. Isi karya itu sendiri sudah sulit diakses, bahkan terkadang tidak dapat ditemukan lagi.
Padahal proses belajar sering kali dimulai dari melihat karya orang lain. Kita belajar dari ide mereka, dari cara mereka bercerita, dari teknik yang mereka gunakan, bahkan dari kesalahan yang mereka buat. Ketika karya-karya tersebut menghilang, kesempatan untuk belajar pun ikut berkurang.
Dari kegelisahan itulah lahir KOMSPACE.
KOMSPACE adalah sebuah ruang digital yang dapat diakses melalui website Paroki Singkawang. Melalui platform ini, karya-karya peserta KOMED tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi juga dapat dilihat, dibaca, dipelajari, dan dinikmati bersama oleh siapa saja.
Karya-karya tersebut dapat diakses melalui 🚀 KOMSPACE
Harapannya, KOMSPACE tidak hanya menjadi rumah bagi karya-karya KOMED Vol. 1, tetapi juga terus berkembang dan mendokumentasikan karya-karya dari penyelenggaraan KOMED berikutnya.
Sebuah Kutipan yang Terus Terngiang
Di tengah proses tersebut, saya terus teringat pada sebuah kutipan favorit saya
"Semuanya tidak kekal, baik yang mengingat maupun yang diingat."
Ketika pertama kali membaca kutipan itu, saya memahaminya sebagai pengingat untuk tidak terlalu takut terhadap penilaian orang lain. Cepat atau lambat, manusia akan melanjutkan hidupnya dan melupakan banyak hal.
Seiring bertambahnya usia, makna kutipan itu terasa semakin luas. Pertemanan yang dulu begitu dekat bisa perlahan menjauh. Lingkaran pergaulan berubah. Orang-orang datang dan pergi. Banyak kenangan yang dahulu terasa penting akhirnya memudar seiring waktu.
Namun ketika memikirkan KOMSPACE, saya menemukan makna lain dari kutipan tersebut.
Mengapa Dokumentasi Itu Penting
Jika manusia memang mudah lupa, maka dokumentasi menjadi semakin penting.
Kita mungkin tidak akan selalu mengingat siapa yang membuat sebuah karya. Kita mungkin tidak akan selalu mengingat setiap detail dari sebuah kompetisi. Namun karya yang didokumentasikan dengan baik memiliki kesempatan untuk terus hidup, melampaui waktu, dan tetap memberikan manfaat kepada orang-orang yang bahkan belum lahir ketika karya itu pertama kali dibuat.
Karena itulah KOMSPACE hadir.
Bukan sekadar sebagai arsip digital, melainkan sebagai ruang agar karya-karya yang pernah lahir dari KOMED tidak berhenti pada hari pengumuman pemenang. Sebuah ruang di mana ide, kreativitas, dan semangat para peserta dapat terus menginspirasi orang lain untuk berkarya.
Karena karya yang baik tidak seharusnya berakhir di folder penyimpanan.
Karya yang baik layak untuk terus hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar